Keajaiban Otak

Penelitian mutakhir menunjukan bahwa otak manusia terdiri dari bermilyar-milyar sel aktip. Dan sekitar 100 milyar sel otak aktip sejak lahir. Setiap sel mampu membuat jaringan dengan kecepatan sekitar 20.000 sambungan tiap detik. Marilah kita bandingkan dengan upaya manusia membangun jaringan internet pada 3 hari pertama tahun 1997, jutaan pengguna komputer membuat jaringan internet sebanyak 200 juta sambungan. Sel otak manusia mampu membuat jaringan sebanyak 20.000 sambungan tiap 1 detik sehingga dalam kurun waktu 3 hari jumlah sambungan yang terbentuk adalah 3 x 24 x 60 x 60 x 20.000 sambungan = 5.184.000.000 sambungan jadi dapat kita lihat bahwa proses pembentukan sambungan antar sel di otak 26 kali lebih cepat dari pembentukan jaringan internet.

Kemampuan otak memori manusia adalah 10800 (angka 1 dengan 800 buah angka 0), dengan kemampuan ini sesungguhnya seseorang mampu menghapal semua atom di alam semesta ini yang diperkirakan berjumlah 10100 (angka 1 dengan 100 buah angka 0). Kalau tidak salah kapasitas hardisk yang sekarang mampu menyimpan data sebanya 200 TB atau sekitar 2 x 1014 angka ini jauh lebih kecil dari kemampuan otak kita Sehingga tidaklah salah apabila Gordon Dryden menyatakan “You’re the owner of the world’s most powerfull computer.” (Anda adalah pemilik komputer paling hebat di dunia ). Tapi yang mengherankan, mengapa kita tidak merasakan kemampuan yang demikian besar itu ? Jawabannya sederhana kita belum bisa memanfaatkan secara maksimal otak kita. Ya bisa kita umpamakan kita memiliki peralatan super canggih, tapi kita tidak bisa mengoperasikannya kan sama saja dengan bohong.

Kita dapat menggunakan otak kita secara maksimal, apabila kita mengenal karakteristik dan cara kerja otak.Berdasarkan belahannya otak dapat dibagi menjadi yaitu Belahan otak kiri mempunyai ciri bekerja secara urut, parsial, dan logis. Belahan Kanan mempunayi ciri bekerja secara acak, hoistik, kreatip

Dalam proses belajar satau kehidupan sehari-hari, orang sering hanya menggunakan setengah kemampuannya yaitu otak kiri, misalnya sewaktu kita belajar di sekolah kita biasa dituntut untuk berpikir urut dan logis saja. Otak kanan membantu kita dalam menghafal cepat, membaca cepat, dan berfikir kreatif, sehingga dalam belajar kita menggunakan otak kiri dan otak kanan dapat dibayangkan hasil yang luar biasa, mungkin saja diluar apa yang kita bayangkan.

Beradasarkan kesadaran otak dapat dibedakan menjadi 2 bagian yaitu Sadar dan Bawah sadar. Bagian yang sadar hanya menyumbangkan 1/7 bagian dari kemampuan otak secara keseluruhan cara kerja otak sadar : tegang dan detil. Sedangkan otak bawah sadar menyumbangkan 6/7 bagian dari seluruh kemampuan otak, cara kerja otak bawah sadar : santai, dan mengingat sesuatau menggunakan kata kunci. Untuk membedakan otak sadar, dan bawah bisa kita umpamakan seseorang yang sedang belajar mengemudi mobil dengan pengemudi yang profesional. Orang yang sedang belajar mengemudi yang bekerja adalah otak sadarnya, penuh konsentrasi, tegang dan hasilnya ? ya kurang efektip kita sebagai penumpang akan merasakan ketidaknyamanan. Tapi coba kita bandingkan dengan sopir taxi yang profesional dia mengemudikan mobil dengan santai, sambil nyanyi, sambil merokok, bahkan sambil ngobrol dengan penumpangnya tapi kita merasakan nyaman sebagai penumpang. Kenapa ? karena pengemudi taksi ini menggunakan otak bawah sadarnya untuk mengemudi.

Sehingga untuk memaksimalkan kemampuan, kita harus memaksimalkan bagaimana cara menggunakan otak yaitu : gunakan otak kiri dan otak kanan untuk berfikir, belajarlah menggunakan otak bawah sadar karena otak bawah sadar menyumbang 6/7 bagian dari kemampuan otak.

Ketidak tahuan kita untuk memanfaatkan fasilitas yang terdapat pada otak menyebabkan kita tertinggal jauh oleh orang lain sehingga timbul anekdot yang sangat memalukan, ceritanya sebagai berikut. Alkisah terjadilah proses pelelangan otak kelas dunia. Otak orang Jerman, yang ahli teknologi dilelang seharga 1000 dolar. Otak orang Jepang, yang kreatif dilelang seharga 10.000 dolar, Sedangkan otak orang Indonesia dilelang dengan harga paling mahal yaitu 100.0000.000 doal! Mengapa ? karena otak orang Indonesia masih utuh, asli, sama sekali belum pernah digunakan.

Advertisements

Heboh, Daging Sapi Kurban Bertulis Asma Allah di Medan

Warga Medan Sumatera Utara (Sumut) heboh dengan penemuan daging sapi kurban bertuliskan asma Allah. Unik, meski irisan daging setebal lebih dari satu centimeter, tulisan Allah terlihat tembus pandang jika diterawang ke arah cahaya.

Penemuan daging bertuliskan Asma Allah ini membuat puluhan warga mendatangi rumah Anggriani di Jl. Alumunium I, Gang Bahagia, nomor 5, Kelurahan Tanjung Mulia, Lingkungan 16, Kecamatan Medan Deli. Sejak Selasa (7/11/2011) pagi, warga terus berdatangan hingga tengah malam sekitar pukul 23.30 WIB.

Pemilik daging, Anggriani mengaku, menemukan daging unik tersebut usai merebus daging sapi kurban pada Senin pagi sekitar pukul 09.00 WIB. Pada empat irisan daging, terlihat tulisan Allah dalam aksara Arab. Sementara pada irisan daging lainnya terlihat wajar dan biasa saja.

“Saat masih dipotong-potong belum kelihatan. Setelah direbus baru kelihatan. Anehnya, Cuma ada empat potong daging. Daging lainnya tidak,” kata Anggraini.

Keunikan lain, walau irisan daging setebal lebih dari satu centimeter, lekukan tulisan Asma Allah akan terlihat jelas dan tembus pandang jika dilihat dengan latar belakang cahaya lampu. Sementara tonjolan daging mempertegas tulisan.

“Kalau diterawang ke arah lampu, lekukannya membentuk bayangan mempertegas ukiran yang menonjol,” jelas Anggraini.

Sejumlah warga yang datang datang melihat, meyakini air rebusan daging tersebut memiliki khasiat menyembuhkan berbagai penyakit. Salah satunya adalah M. Sabri. Pria berusia 39 tahun ini meyakini air kaldu rebusan daging sapi kurban bertuliskan Asma Allah itu bermanfaat mengobati penyakit dalam, terutama pencernaan dan menambah stamina tubuh.

“Saya yakin daging itu tidak hanya mengandung protein, tetapi juga bisa menyembuhkan penyakit,” sebut Sabri.

Akibat keyakinan sejumlah pengujung yang datang, pemilik daging berencan menyiapkan air kaldu rebusan daging tersebut untuk warga yang membutuhkannya.

ADAM BUKAN MANUSIA PERTAMA

I love Google search engine nomor 1 di dunia. Dengan mesin pencari Google saya memasukkan keyword atau kata kunci adam.
Ada 831.000.000 hasil telusur untuk adam. Urutan nomor 2 adalah website Wikipedia Ensiklopedia bebas dengan alamat http://id.wikipedia.org

Saya kutip sebagian isinya sebagai berikut : Adam (berarti tanah, manusia, atau cokelat muda; bahasa Ibrani: אָדָם; bahasa Arab: آدم) atau Nabi Adam a.s. dipercaya oleh agama-agama Samawi sebagai manusia pertama, bersama dengan istrinya, Hawa. Merekalah orang tua semua manusia di dunia. Rincian kisah mengenai Adam dan Hawa berbeda-beda antara agama Islam, Yahudi, Kristen, maupun agama lain yang berkembang dari ketiga agama Abrahamik ini.

Benarkah Adam manusia pertama ? Sekali lagi benarkah Adam manusia pertama ?
Hampir semua orang yang kita tanya dengan pertanyaan “siapa manusia pertama di dunia ?” Dapat kita pastikan jawabannya adalah : Adam !

Namun, benarkah pernyataan tersebut yang menyatakan bahwa Adam adalah manusia pertama di dunia ini. Dalam hal ini ada perbedaan pendapat. Mayoritas menyatakan bahwa Adam adalah manusia pertama. Dan hanya sebagian kecil atau minoritas yang menyatakan bahwa Adam itu bukan manusia pertama di dunia ini. Berarti sebelum Adam diturunkan di dunia ini sudah ada manusia yang menghuni bumi ini.

Mari kita kaji dan cermati bersama masalah tersebut.
Dalam situs UnICoM Universal Communication dengan alamat http://www.huttaqi.com ada artikel yang menarik dengan judul “Mengenal Awal Kejadian Manusia” oleh Huttaqi yang disampaikan pada Kajian Bulanan di Al Azhar Jakarta. Secara lengkap saya kutip sebagai berikut : Mengenal Awal Kejadian Manusia
Disampaikan pada Kajian Bulanan di Al Azhar Jakarta
Oleh :
Huttaqi

I. Masa-masa awal sejarah Manusia yang kita kenal
Ada 3 Pendapat (mungkin lebih) tentang manusia pertama ini :
1. Pendapat Umum (Mayoritas) Bahwa Adam adalah manusia pertama
Beberapa dasar :
a. Allah berfirman :
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu” (QS An Nisa 1)

b. Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.(QS Al Baqarah: 30)
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!”
(QS Al Baqarah :31)

2. Pendapat sebagian orang (Minoritas) bahwa Adam bukan manusia pertama
Dasar-dasar:
a. Firman Allah
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.(QS Baqarah :30)

Pemahaman “Khalifah” itu dipahami bukan “wakil” melainkan diartikan sebagai “pengganti” dasarnya : Dia-lah yang menjadikan kamu (pengganti-pengganti) khalifah-khalifah di muka bumi. (QS Fathir:39)
Kemudian Kami jadikan kamu pengganti-pengganti (mereka) di muka bumi sesudah mereka, supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat.(QS Yunus: 14)

Dalam Kitab Al Mufrodat Alfadhil Quran bab huruf kha hal. 157:
“Dan yang dinamakan kholifah ialah ganti dari yang lainnya, sama juga yang diganti itu memang karena tidak hadir atau yang diganti itu karena mati atau yang diganti itu karena udzur,dll”

Atau di dalam tafsir ibnu Katsir (hal 104)
“Yakni suatu kaum yang akan menggantikan satu sama lain, kurun demi kurun dan generasi demi generasi”.

Tetapi tidak dapat dipahami bahwa yang “digantikan” itu adalah Allah, sebab :
Allah tidak berhalangan/udzur, tidak mati, dan bukannya tidak bisa melaksanakan,dll.
Jika Adam itu menggantikan Allah maka dia harus memiliki sifat2 yang menyerupai Allah. Tidak mungkin sesuatu yang tidak sempurna menggantikan sesuatu yang sempurna. Demikian menurut ibnu Katsir.

Sedangkan “kholifah” dalam arti wakil, kata Ibnu Katsir, sudah pasti tidak bisa dipakai sebab manusia tidak layak sebagai wakil Allah, malah sebaliknya Allahlah sebagai khalifah atau wakil (penolong) dasarnya :
“Cukuplah Allah menjadi Wakil (Penolong) kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung”
(Ali Imran:173, Hud:12, At Thalaq:3, An Nisa:81)
Tidak ada satupun di alQuran maupun di Hadits Nabi yang mengatakan bahwa manusia merupakan Kholifatullah. Allah hanya menyebutkan “kholifah” saja.

Menurut Al Quran :
Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan umat-umat yang sebelum kamu, ketika mereka berbuat kezaliman, padahal rasul-rasul mereka telah datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata, tetapi mereka sekali-kali tidak hendak beriman. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat dosa. Kemudian Kami jadikan kamu pengganti-pengganti (mereka) di muka bumi sesudah mereka, supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat. (QS Yunus:13-14)

2. Dari mana malaikat itu tahu bahwa “Kholifah” itu akan menumpahkan darah ?
Alloh berfirman di dalam Surat al-Baqarah :30
“Wa idzqoola robbuka lil malaikati inni ja’ilun kholifah fil ardhi”
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat,”Sesungguhnya Aku akan menjadikan kholifah (Adam) dimuka bumi”.

“qooluu ataj’alu fiiha mayyufsidu fiiha wa yasfikuddimaa wa nahnu
nussabbihu bihamdika wa nuqaddisu lak”
“Para malaikat bertanya,”Mengapa Engkau hendak menempatkan dipermukaan
bumi orang yang akan membuat bencana dan menumpahkan darah ?,sedang kami senantiasa bertasbih memuji dan mensucikanMu ?
“qoola inni a’lamu maa laa ta’lamun”
Alloh berfirman,”Sesungguhnya Aku mengetahui apa-apa yang tidak kamu ketahui”

Perhatikanlah, bagaimana Malaikat bisa tahu bahwa “Adam adalah makhluk yang akan membuat bencana dan menumpahkan darah” ?
Ada 3 kemungkinan malaikat bisa tahu bahwa “Adam adalah makhluk yang
akan membuat bencana dan menumpahkan darah”.
1. Malaikat memiliki kemampuan melihat sesuatu yang akan terjadi.
2. Malaikat diberitahu oleh Alloh.
3. Malaikat sudah pernah melihat hal yang serupa itu terjadi.

kemungkinan yang pertama,
“1. Malaikat memiliki kemampuan melihat sesuatu yang akan terjadi.”
hal ini tidak mungkin sebab dibantah para malaikat sendiri di dalam
ayat alqur’an sendiri,
QS Baqarah :32 “Qooluu subhanaka laa ilma lanaa illaa maa ‘alamtanaa innaka antal
alimul hakiim”
“Para malaikat menjawab,”Maha suci Engkau Ya Alloh, kami tidak mempunyai ilmu, hanya sebatas yang pernah Engkau ajarkan kepada kami.
Sesungguhnya Engkau Maha Tahu dan Maha Bijaksana”
Dari ayat tersebut di atas, jelas, bahwa malaikat tidak memiliki kemampuan untuk melihat masa depan.

Kemungkinan yang ke 2,
Malaikat mengetahui akan hal itu sebab diberitahu oleh Alloh,
Tetapi hal ini dibantah di dalam ayat tersebut yaitu, QS Al Baqarah:30
“qoola inni a’lamu maa laa ta’lamun”
Alloh berfirman,”Sesungguhnya Aku mengetahui apa-apa yang tidak kamu
ketahui”. Jadi dalam hal ini, Alloh tidak memberitahu malaikat bahwa manusia
adalah makhluk yang membuat bencana dan menumpahkan darah.

Maka jelas, bahwa kemungkinan kemungkinan yang ketigalah yang berlaku,
yaitu bahwa Malaikat bertanya kepada Alloh,,”Mengapa Engkau hendak menempatkan dipermukaan bumi orang yang akan membuat bencana dan menumpahkan darah ?,
adalah sebab sudah pernah ada kejadian yang seperti itu.Sudah pernah ada makhluk yang seperti Adam, yaitu sudah pernah ada manusia sebelumnya.

3. Firman Allah :“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga `Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing)” (QS Ali Imran:33)

4. Firman Allah : Sesungguhnya misal (penciptaan) `Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia.(QS Ali Imran:59)

Menurut ilmu pengetahuan :
a. Di puncak Big Hill Pegunungan Cumberland di Jackson County Kentucky, terletak lapisan batu pasir dari zaman karbon. Di tahun 1880-an batu itu dilindas roda kereta yang lewat sehingga suatu ketika permukaan batunya pecah. Ketika remukan akibat pecahan itu sudah tidak menutupi lagi, sederetan jejak ditemukan di atas lapisan karbon berusia sekitar 300 Juta tahun (sebelum perkiraan waktu adanya Adam), Jejak-jejak yang ditemukan adalah dua jejak manusia, ukuran baik, ibu jari terbuka lebar dan mempunyai tanda yang amat jelas. Jejak ini diperiksa oleh PRof. JF Brown dari Berea College,
Kentucky. (kutipan dari The American Antiquarian, 7:39, Januari 1885)

b. Sepasang jejak kaki manusia (ada fotonya, sama dengan jejak kaki manusia biasa bentuknya) pernah menghiasi lempengan batu kapur di tepi barat Sungai Mississippi di St. Louis. Di tahun 1816 atau 1817, lempengan itu digali dari posisinya dan dipindahkan oleh Bp. George Rappe ke desa Harmony (sekarangNew Harmony Indiana). Panjang jejak itu 10 inc dan lebar 4 inc di jari kaki, terpisah 6 inc di tumit, dan 13 inc di jari kakinya, menurut laporan Henry R. Schoolcraft, “jari-jari kaki amat terbentang, dan telapak kakinya rata seperti yang akan terjadi pada mereka yang terbiasa lama tidak mengenakan sepatu. Walaupun keadaannya seperti itu, jejak tersebut mencolok amat alami, menunjukkan rincian otot, dan membengkaknya tumit serta jari-jari kaki, dengan ketepatan dan kebenaran alami, yang tidak dapat saya salin, dengan tepat, dalam gambar ini…. (maaf gambar tidak bisa saya scan) Penelitian dari segala segi akan menjamin kesimpulan bahwa jejak ini terbuat pada waktu batu ini masih cukup lunak sehingga tekanan akan membentuk jejak tersebut dan bahwa jejak kaki ini alami dan asli. Dalam skema geologi, batu kapur ini mengeras sekitar 270 juta tahun yang lalu (jauh sebelum perkiraan adanya Adam). Batu dan jejak kaki dikatakan mengalami bukti keausan
dan penuaan yang sama. (dikutip dari The American Journal of Science and Arts,1:5:223-31,1882)

c. Fosil jejak kaki yang mungkin tertua yang sudah tersingkap ditemukan di bulan Juni 1968 oleh William J. Meister seorang kolektor fosil. Diperkirakan jejak kaki itu berumur sekitar 300-600 juta tahun yang lalu juga dengan bukti pendukung adanya seekor tribolet yang ada jejak fosilnya di bawahnya (seolah tribolet itu terinjak jejak kaki tsb). Tribolet adalah invertebrata laut berukuran kecil, kerabat dari udang dan kepiting yang banyak dijumpai sekitar 320 juta tahun yang lalu sebelum punah 280 juta tahun yang lalu. Hal yang sangat aneh, adalah jejak kaki manusia itu mengenakan alas kaki sederhana…. Ditemukan di Antelope Spring, 43 mil di barat Delta, Utah. (Ada gambarnya tapi tidak saya scan)Tanggal 20 Juli 1968, seorang geologi dari Tucson Arizona Dr. Clifford Burdick, meneliti jejak itu dan ditemukan jejak menumpuk di atas alas kaki itu seperti jejak seorang anak-anak. (kutipan Creation Research Society Quarterly, Desember 1968) dan masih banyak bukti-bukti penemuan tentang jejak kaki yang berumur puluhan juta bahkan ratusan juta tahun yang lalu.
Perkiraan adanya Adam menurut Doktor Adil Thoha Yunus di dalam bukunya, Hayat Al-Anbiya Bayna Haqoiq at Tarikh wa al Mukasyafat Al-Atsariyyah al-Jadidah) adalah sekitar 600 tahun sebelum masehi, ini didasarkan keterangan dari kitab Taurat yang tertua, transkrip Yunani yaitu masa antara Adam sampai al Masih, tepatnya adalah 5872 tahun.

3. Pendapat lain tentang manusia pertama:
Alloh SWT berfirman dalam Al-Qur’an :
1. Ya ayyuhannaasuttaquu Robbakumul ladzii kholaqokum min nafsin waahidatin wa kholaqo minhaa zaujahaa wabats-tsa minhumaa rijaalan katsiiron wa nisaa-an (Q.S.4, An-Nisa’ :1). Artinya : Wahai seluruh manusia, takutlah kamu semua kepada Tuhan mu yang menciptakan kamu semua dari DIRI YANG SATU(berjenis wanita) dan dari wanita yang satu itu Alloh menjadikan suaminya kemudian dari wanita dan laki-laki kedua-nya itu Alloh mengembangbiakan laki-laki dan perempuan yang banyak.
2. Huwalladzii Kholaqokum Min nafsin Waahidatin, wa ja’ala minha zaujaha liyaskuna ilaiha. (Q.S.7, Al-A’rof :189). Artinya : Dialah yang telah menciptakan kamu dari DIRI YANG SATU(wanita) dan dari pada wanita itu dijadikannya suaminya.
3. Huwalladzii ansya-akum min nafsin waahidatin….. (Q.S.6, Al-An’am : 98). Artinya : Dan Dialah yang menciptakan kamu dari DIRI YANG SATU (berjenis wanita).
4. Kholaqokum min nafsin waahidatin tsumma ja’ala minha zaujahaa.. (Q.S.39, Az Zumar :6). Artinya : Dia menciptakan kamu dari DIRI YANG SATU (wanita) kemudian dijadikan dari wanita yang satu itu suaminya.
Dalam ayat-ayat tersebut di atas ada kalimat “…Nafsin Waahidatin..” yang artinya “…diri yang satu..”. Waahidun artinya satu dan Waahidatun artinya juga satu.
Tetapi di ayat Qur’an itu dipilih oleh Alloh adalah kalimat (kata) Waahidatun yakni ada huruf ” TA” marbuthoh-nya, yakni SEBAGAI TANDA WANITA.

Jadi ini menurut Al-Qur’an surat An Nisa’, Surat Al-Arof, Surat Az-Zumar dan Surat Al-An’am bahwa MANUSIA PERTAMA ITU BERJENIS WANITA bukan laki-laki. Dan kalau begitu manusia pertama bukan lah Adam karena Adam itu seorang laki-laki. Tentang nama manusia pertama yang berjenis wanita ini tidak ada keterangan dalam Qur’an.

Jadi manusia pertama yang berjenis wanita itu hamil atas kuasa Alloh (tanpa suami) lalu melahirkan seorang anak laki-laki yakni sebagai manusia kedua. Yang kemudian anak laki-laki tersebut setelah dewasa menjadi suami dari manusia pertama.
Perhatikan kalimat ,” wakholaqo minha zaujaha “
Dalam ayat itu ada kata , ” MINHA ” artinya dari orang yang satu berjenis wanita. Seandainya manusia pertama itu laki-laki maka kalimatnya ialah ” MINHU” tetapi di ayat-ayat itu memakai kalimat,” MINHA” yang berarti wanita.
Kemudian kalimat ” ZAUJAHAA” artinya Suami nya (wanita).

Terlihat jelas bahwa manusia pertama adalah wanita kemudian manusia ke dua adalah berjenis laki-laki. Kalau seandainya manusia pertama itu laki-laki maka kalimat nya dalam Qur’an bukanlah ” Wakholaqo Minhaa Zaujahaa” tetapi berbunyi ,” Wakholaqo Minhu Zaujahu “. Sebab “HU” itu dhomir laki-laki dan “HAA” itu dhomirnya wanita.
Dan dalam AL-QUR’AN tetap memakai ” MINHA ZAUJAHAA”.
Setelah tercipta manusia pertama berjenis wanita kemudian melahirkan seorang manusia berjenis laki-laki dan manusia kedua ini menjadi suami manusia pertama kemudian berkembanglah dari dua manusia itu laki-laki dan wanita yang banyak.

II. Manusia keturunan Adam

Allah berfirman,
“Kami telah menciptakan manusia dari saripati tanah liat. Kemudian Kami jadikan dia air mani yang tersimpan dalam tempat yang kukuh sekali. Kemudian Kami jadikan ‘alaqoh’ kemudian ‘alaqoh’ Kamu jadikan gumpalan (janin) dan gumpalan itu Kami jadikan tulang belulang dan tulang itu Kami bungkus dengan daging, kemudian Kami kembangkan menjadi makhluk lain lagi dan Kami tidak melalaikan ciptaan Kami”
(QS Al Mukminun 12-14)

Perkataan Arab “Alaqah” mempunyai tiga arti. Arti pertama adalah “lintah”. Arti kedua adalah “barang yang mengambang” dan yang ketiga “segumpal darah”
Menurut penyelidikan Profesor Moore, ia adalah Profesor Emeritus dalam Anatomi dan Sell Biologi di Universitas Toronto Kanada, ahli ilmu biologi, ditemukan bahwa :
1. Lintah air tawar sama penampakannya dengan embrio dalam tingkat alaqah ini.
2. Arti kedua adalah “barang mengambang”, inilah yang dapat kita lihat ketika embrio selama fase alawah menempel pada uterus (rahim) ibu.
3. Arti ketiga adalah “gumpalan darah”, menurut penelitian Profesor tersebut, di dalam fase alawah ini terjadi proses internal pembentukan darah seperti dalam tabung tertutup. Darah terperangkap dalam tabung2 tertutup membentuk menjadi gumapalan-gumapalan darah.
Dan ketiga arti itu diwakili oleh satu kata saja yaitu “alaqoh” dan tiga makna itu bisa dipakai tanpa ada satupun arti “alaqoh” yang tertolak.

Allah berfirman :
Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya rohKu; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya”.(QS As Shaad : 72).

Allah juga berfirman :
Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya rohNya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.(QS As Sajdah :9).
Demikian saya kutip secara lengkap artikel “Mengenal Awal Kejadian Manusia”.

Catatan :
Ada perbedaan dalam menterjemahkan Kitab Al Qur’an Surat An Nisaa ayat 1, Al A’raf ayat 189, Al An’am ayat 98 dan Az Zumar ayat 6, antara penulis artikel diatas dengan terjemahan yang saya lihat dalam situs Al Islam http://quran.al-islam.com/.
Yang perlu saya tekankan dalam masalah ini adalah perbedaan faham adalah hal yang wajar. Bagaimana sikap kita ? Bagaimana sikap dan pandangan kita terhadap perbedaan faham di kalangan ummat Islam. Perpecahan ukhuwah Islamiah bukan karena adanya perbedaan pendapat atau faham di kalangan ummat Islam, akan tetapi karena hawa nafsu menunggangi perbedaan fahamnya. Sehingga timbul perbuatan mencaci-maki, cela-mencela, fitnah-memfitnah dan malahan ada yang sampai kafir-mengkafirkan sesama muslim yang akhirnya ummat Islam menjadi lemah dan hilang kekuatannya.

DIALOG SANG BUDDHA DENGAN MURIDNYA

Dalam Kitab Milal wan Nihal yang disusun oleh Muhammad bin Abdul Karim asy-Syahrostani bab al-Buudziyyah halaman 14 diceritakan ketika Siddhartha Gautama(SG) akan melepaskan muridnya yang bernama Buriba (B) untuk berdakwah menyebarkan agama Buddha, terjadi dialog antara Sang Buddha dengan muridnya tersebut sebagai berikut :

SG : “Wahai Buriba, bila kamu nanti di masyarakat dicaci maki, dihina, dijelek-jelekkan, bagaimanakah sikapmu ?”.

B : “Saya bersyukur kepada mereka, karena mereka tidak sampai memukuli saya”.

SG :”Jika mereka memukuli kamu atau melempar kamu dengan batu, bagaimanakah kamu ?”.

B : “Saya bersyukur kepada mereka, karena mereka tidak memukuli diriku dengan tongkat atau dengan pedang”.

SG : “Bila mereka memukuli kamu dengan tongkat atau dengan pedang, bagaimanakah sikapmu ?”.

B : “Saya bersyukur kepada mereka, karena mereka tidak menghancurkan hidupku”.

SG : “Dan jika mereka menghancurkan hidupmu, bagaimanakah sikapmu ?”.

B : “Saya bersyukur kepada mereka, karena mereka melepaskan ruh saya dari penjara jasad yang buruk, mereka bukan menyakiti saya yang sangat”.

SG : “Baik kamu yaa Buriba, dengan sesuatu yang telah didatangkan kepadamu tentang kesabaran, keteguhan, kekuatan ikatan, ketetapan hatimu, maka pergilah kamu dakwah kepada kabilah dan tegaklah di dalamnya. Sebagaimana kamu datang ke pantai maka sampailah mereka denganmu, sebagaimana kamu jaya, maka jayakanlah mereka bersama kamu, sebagaimana kamu telah sampai kepada maqom Nirvana (surga) yang sempurna, maka sampailah mereka pula bersama kamu”.

Semoga dialog antara Sang Buddha dengan muridnya yang bernama Buriba ini dapat diambil hikmahnya.

(1). Apabila ada orang yang berbuat kebaikan kemudian orang itu dibalas dengan kebaikan adalah hal yang biasa.

(2). Apabila ada orang yang berbuat kejelekan kemudian orang itu dibalas dengan kejelekan adalah hal yang biasa.

(3). Apabila ada orang yang berbuat kebaikan kemudian orang itu dibalas dengan kejelekan adalah hal yang banyak terjadi.

(4). Apabila ada orang yang berbuat kejelekan kemudian orang itu dibalas dengan kebaikan adalah hal yang luar biasa.

Menyingkap Misteri Gunung Lanang

Selama ini, Gunung Lanang populer sebagai tempat berburu wahyu. Setiap bulan Suro ritual berskala besar digelar disertai pagelaran wayang. Tetapi, ada misteri lain terkait asal mula gunung ini, yang nyaris tertutup oleh berbagai mitos lain. Gunung Lanang terletak di kawasan Pantai Congot, Kulonprogo. Gunung ini terkenal sebagai tempatnya para pelaku tirakat yang memburu pangkat dan derajat. Bahkan, wahyu keprabon.

Tetapi, realitas Gunung Lanang ini membuat orang bertanda tanya. Pasalnya, berbagai bangunan yang ada di komplek petilasan Gunung Lanang ini diberi nama-nama berbau Hindu. Misalnya, Astana Jingga, Badraloka Mandira, Candi Wisuda Panitisan dan Tirta Kencana. Kecuali itu, di komplek Tirta Kencana juga didapati sebuah prasasti Ajisaka, terbuat dari semen berbentuk mirip sebuah pohon dengan dahan dan batangnya penuh aksara Jawa.

Nama-nama berbau Hindu yang disematkan pada sejumlah bagian komplek Gunung Lanang, memiliki arti yang sungguh menggugah daya tarik mistis seseorang. Astana Jingga artinya sebuah tempat yang memancarkan sinar kuning kemerahan. Badraloka Mandira berarti sebuah bangunan dari batu bata yang memancarkan sinar keagungan. Sedangkan kata ‘Lanang’ diartikan sebagai lelaki, yang merujuk pada keyakinan bahwa Gunung Lanang tersebut merupakan petilasan seorang bangsawan dari Mataram Kuno.

Melihat nama-nama bercirikan Hindu dan maknanya, serta keyakinan sejumlah orang yang mengatakan Gunung Lanang sebagai petilasan bangsawan Mataram Kuno, tentu akan terhenyak jika kemudian melihat langsung petilasan ini. Sebab, segala nama dan ciri-ciri Mataram Kuno sebagaimana diyakini itu sungguh terasa bagai mitos yang dipaksakan. Sebab, tak ada satu pun ciri peninggalan zaman Mataram Kuno yang bisa didapatkan di tempat ini. Mengapa nama-nama itu disematkan, dikenal luas dan bagaimana sesungguhnya riwayat Gunung Lanang?

Nuansa Hindu

Gunung Lanang sebenarnya hanya sebuah bukit kecil di kawasan dusun Bayeman, Sindutan, Temon Kulonprogo, Jogjakarta. Pada puncaknya, didapati sebuah bangunan mirip monumen yang diberi nama Sasana Sukma. Puncak ini merupakan tempat dilakukannya berbagai ritual. Sebelum masuk ke puncak itu, di bawahnya terdapat bangunan terbuka yang terdiri dari empat trap. Tempat ini disebut Candi Wisuda Panitisan.

Di sebelah barat Gunung Lanang, terdapat komplek bangunan Purna Graha atau Graha Kencana dan Tirta Kencana. Purna Graha merupakan tempat ritual khusus yang keberadaannya selalu terkunci untuk melindungi benda-benda yang dianggap berharga seperti pusaka. Tirta Kencana merupakan tempat air suci yang terbagi dalam dua bilik. Kedua bilik diberi genthong besar sebagai tempat menampung air suci. Dua bilik itu diberi nama Nawangwulan dan Nawangsih. Dua nama bidadari zaman Joko Tarub ini semakin membuyarkan kesan mistis zaman Mataram Kuno. Misteri apa yang sebenarnya tersembunyi di balik semua ciri fisik Gunung Lanang ini?

Prawiro Suwito (81), juru kunci Gunung Lanang yang masih sangat bugar kesehatannya, mengatakan kepada posmo, Gunung Lanang ini sudah dikenal sejak zaman Jepang. Di kala itu, Gunung Lanang adalah sebuah pasar yang ramai pada malam Selasa dan Jumat Kliwon. Bersamaan dengan itu, Gunung Lanang juga sudah dikenal keramat. Prawiro tak bisa menjelaskan bagaimana kemudian nama-nama Hindu itu disematkan di berbagai bagian komplek Gunung Lanang. Prawiro hanya menerima saja setiap bentuk sumbangan dari pelaku tirakat, yang hendak membangun kawasan Gunung Lanang berdasarkan wangsit.

Juru kunci Gunung Lanang, menurut Prawiro, sudah berganti selama empat generasi. Prawiro sendiri sudah 15 tahun menjadi juru kunci di gunung itu. Menurutnya, juru kunci diwariskan secara turun-temurun. Tak seorang pun kuat menjadi juru kunci jika bukan dari garis keturunan juru kunci. Masyarakat setempat meyakini, Gunung Lanang adalah pengayomnya. Apa yang terungkap dari penuturan jujur Prawiro Suwito tentang riwayat Gunung Lanang ini, ternyata semakin membuat ciri-ciri Hindu sebagaimana tampak pada nama-nama bagian komplek gunung tersebut menjadi samar. Pasalnya, Prawiro justru mengemukakan fakta tutur yang sungguh lain dari mitos Gunung Lanang yang selama ini dikenal sebagai petilasan bertapa bangsawan Mataram Kuno.

Petilasan Adipati Anom

Sedikit saja yang bisa digali dari penuturan juru kunci Gunung Lanang. Tetapi, sepenggal riwayat yang disampaikan Prawiro menampakkan titik terang terkait kebenaran asal-mula Gunung Lanang. Menurut Prawiro, Gunung Lanang sebenarnya adalah petilasan Adipati Anom, putra Sunan Mangku Rat I. Adipati Anom yang bersekutu dengan Belanda, disebutkan oleh Prawiro singgah di Gunung Lanang, setelah berhasil lolos dari kejaran para musuh di Cilacap.

Keterangan Prawiro ini mengungkap sejarah Mataram Hadiningrat, pasca Geger Trunojoyo di tahun 1675-1677 Masehi. Seperti diketahui, Mataram Hadiningrat di Pleret memang pernah runtuh oleh pemberontakan besar yang dipimpin oleh putra Adipati Cakraningrat di Madura, Trunojoyo. Runtuhnya Keraton Mataram di Pleret itu memaksa Sunan Mangku Rat I melarikan diri ke arah barat, bersama putra pangerannya. Sunan Mangku Rat I kemudian dalam Babad Ing Sengkala disebutkan wafat pada 10 Februari 1677 Masehi di Wanayasa, Banyumas. Sunan Mangku Rat I dimakamkan di Tegal Arum, sehingga kemudian dikenal pula dengan julukan Sunan Tegal Arum.

Sebelum meninggal, Sunan Mangku Rat I telah menunjuk putranya, Adipati Anom, untuk menggantikannya sebagai raja dengan dukungan pihak Belanda. Dengan demikian, Adipati Anom segera kembali ke Jogjakarta, guna merebut kembali Keraton Mataram di Pleret yang saat itu sudah dikuasai oleh Adipati Trunojoyo. Menjadi logis keterangan Prawiro, jika pada saat perjalanan kembali dari Banyumas/Cilacap itu, Adipati Anom singgah di Gunung Lanang bersama seorang putri yang tidak diketahui namanya.

Prawiro mengatakan, selama beberapa hari lamanya, Adipati Anom menetap di puncak Gunung Lanang. Sedangkan putri yang dibawanya dari Cilacap itu tinggal di sebelah barat Gunung Lanang, yang kini menjadi komplek Tirta Kencana. Prawiro mengatakan, Tirta Kencana itu dulu hanya sebuah Sendang bernama Sinongko.

Hubungan dengan Mataram

Riwayat Gunung Lanang versi juru kunci tersebut, pada kemudian hari dikuatkan oleh kedatangan sejumlah kerabat Keraton Mataram di Jogjakarta yang bertirakat di gunung itu. Bahkan, Prawiro mengatakan, Sultan HB IX mendapatkan wahyu keprabon di Gunung Lanang. Banyak lagi menurut Prawiro, kerabat Keraton Mataram yang datang ke Gunung Lanang dengan menyamar. Hubungan antara Keraton Jogjakarta dengan Gunung Lanang ini juga dikuatkan lagi dengan adanya pemberian tombak pusaka dari Keraton Jogjakarta. Sayang, menurut Prawiro, tombak pusaka itu telah hilang dicuri orang dan hanya tinggal gagangnya saja.

Prawiro juga mengatakan, ketika Sultan HB IX jumeneng praja, kakek buyutnya yang menjadi juru kunci diberi nama keraton, Harjowiyono. “Nama asli buyut saya itu Singojoyo. Dari mbah buyut saya itulah diceritakan riwayat Adipati Anom yang setelah bertahta bergelar Sunan Mangku Rat II”, ujar Prawiro.

Pada perkembangan selanjutnya, di sebelah selatan komplek Sendang Sinongko atau Tirta Kencana, terdapat bangunan tinggi yang disebut Gapura atau Astana Silongok. Bangunan ini menurut Prawiro digunakan oleh kerabat Keraton yang ingin menatap keluasan Laut Kidul. Diduga, bangunan ini dibuat di masa Sultan HB IX, sebagai sarana kontak batin dengan Ratu Kidul.

Adanya kesaksian mistis tentang didapatkannya wahyu keprabon Sultan HB IX di Gunung Lanang, pada masa berikutnya menarik sejumlah tokoh penting di negara ini. Prawiro mengatakan, seseorang yang mengaku utusan Pak Harto, pengusa ORBA, pernah datang bertirakat selama beberapa hari di Gunung Lanang. Prawiro juga menyebut pernah datangnya seseorang yang mengaku sebagai utusan Megawati.

Kini, Gunung Lanang tetap dilestarikan. Ritual besar diselenggarakan setiap malam 1 Suro. Dari para pelaku tirakat, diketahui godaan di Gunung Lanang ini cukup berat. Antara lain cobaan dari siluman Ular putih, Macan putih, Perkutut putih dan sejenisnya. Ada pun sang mbaurekso Gunung Lanang menurut Prawiro adalah Eyang Sidik Permana. Para pelaku tirakat yang berhasil ujubnya akan ditemui oleh Eyang Sidik Permana yang menurut Prawiro berjenggot panjang nyaris menyentuh tanah. Mengenakan udheng dan busana serba hitam. “Dari kesaksian lain, Sunan Kalijaga juga bisa muncul jika ujubnya terkabul”, pungkas Prawiro.

Surat Kecil Untuk Tuhan

Surat Kecil Untuk Tuhan

gw udah baca novel ini dan bener-bener sangat mengharukan dan menyentuh banget. Disini juga banyak pelajaran tentang arti hidup dan sebuah cara menyikapi perjalanan hidup 🙂

Surat Kecil Untuk Tuhan

Tuhan…
Andai aku bisa kembali
Aku tidak ingin ada tangisan di dunia ini.

Tuhan…
Andai aku bisa kembali
Aku berharap tidak ada lagi hal yang sama terjadi padaku,
terjadi pada orang lain.

Tuhan…
Bolehkah aku menulis surat kecil untuk-Mu

Tuhan…
Bolehkah aku memohon satu hal kecil untuk-Mu

Tuhan…
Biarkanlah aku dapat melihat dengan mataku
Untuk memandang langit dan bulan setiap harinya..

Tuhan…
Izinkanlah rambutku kembali tumbuh, agar aku bisa menjadi wanita seutuhnya.

Tuhan…
Bolehkah aku tersenyum lebih lama lagi
Agar aku bisa memberikan kebahagiaan
kepada ayah dan sahabat-sahabatku

Tuhan…
Berikanlah aku kekuatan untuk menjadi dewasa
Agar aku bisa memberikan arti hidup
kepada siapapun yang mengenalku..

Tuhan ..
Surat kecil-ku ini
adalah surat terakhir dalam hidupku
Andai aku bisa kembali…

Ke dunia yang Kau berikan padaku..

In memorial,

Gita Sesa Wanda Cantika.

SINOPSIS CERITA

Keke, seorang penderita kanker ganas yang menyerang bagian wajah, Rabdomiosarkoma atau kanker jaringan lunak pertama di Indonesia. Keke atau Gita Sesa Wanda Cantika adalah seorang gadis remaja berusia 13 tahun ketika divonis memiliki penyakit kanker mematikan tersebut yang dapat membunuhnya dalam waktu 5 hari. Kanker jaringan lunak itu menggerogoti bagian wajahnya sehingga terlihat buruk menjadi seperti monster. Walau dalam keadaan sulit, Keke terus berjuang untuk tetap hidup dan tetap bersekolah layaknya gadis normal lainnya.

Mendengar vonis tersebut, sang Ayah, Joddy Tri Aprianto tidak menyerah. Ia terus berjuang agar sang putri kesayangannya itu dapat terlepas dari vonis kematiannya. Perjuangan sang ayah dalam menyelamatkan putrinya tersebut begitu mengharukan.

Perjuangan panjang Keke dalam melawan kanker ternyata membuahkan hasil. Kebesaran Tuhan membuatnya dapat bersama dengan keluarga serta sahabat yang ia cintai lebih lama. Keberhasilan Dokter Indonesia dalam menyembuhkan kasus kanker yang baru pertama kali terjadi di Indonesia ini menjadi prestasi yang membanggakan sekaligus membuat semua dokter di dunia bertanya-tanya.

Namun kanker itu kembali setelah sebuah pesta kebahagiaan sesaat. Keke sadar jika nafasnya di dunia ini semakin sempit. Ia tidak marah pada Tuhan, ia justru bersyukur mendapatkan sebuah kesempatan untuk bernafas lebih lama dari vonis 5 hari bertahan hingga 3 tahun lamanya, walau pada akhirnya ia harus menyerah. Dokter pun akhirnya menyerah terhadap kankernya. Di nafasnya terakhir itulah ia menuliskan sebuah surat kecil untuk Tuhan. Surat yang penuh dengan kebesaran hati remaja Indonesia yang berharap tidak ada lagi air mata di dunia ini terjadi padanya, terjadi pada siapapun.

Hingga pada tanggal 25 Desember 2006, Keke menghembuskan nafas terakhirnya pada pukul 11 malam. Tepat setelah ia menjalankan ibadah puasa dan idul fitri terakhir bersama keluarga dan sahabat-sahabatnya. Namun kisahnya menjadi abadi. Ribuan air mata berjatuhan ketika biografi pertamanya ini dikeluarkan secara online. Pesan Keke terhadap dunia berhasil menyadarkan bahwa segala cobaan yang diberikan Tuhan adalah sebuah keharusan yang harus dijalankan dengan rasa syukur dan beriman.

Haruskah Shaum Arafah Sama Harinya dengan Wukuf?

T. Djamaluddin
Anggota Badan Hisab Rukyat Kementerian Agama RI

Terkait dengan perbedaan Idul Adha, saya sudah menjelaskan sebab-sebabnya di
http://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/11/09/menyikapi-perbedaan-idul-adha-1431/
Namun yang masih sering ditanyakan adalah “mengapa kita tidak mengikuti saja wukuf di Arafah?” Persoalan yang paling mendasar adalah apakah ada dalil yang secara tegas memerintahkan shaum Arafah bersamaan saat jamaah haji berwukuf? Menurut kaidah fikih, suatu ibadah hanya dilaksanakan bila ada dalil yang memerintahkannya.
Dalil yang ada (merujuk pada situs HTI) hanya ini:
«فِطْرُكُمْ يَوْمَ تُفْطِرُوْنَ وَأَضْحَاكُمْ يَوْمَ تُضَحُّوْنَ، وَعَرَفَةُ يَوْمَ تُعَرِّفُوْنَ»
Hari Raya Idul Fitri kalian adalah hari ketika kalian berbuka (usai puasa Ramadhan), dan Hari Raya Idul Adha kalian adalah hari ketika kalian menyembelih kurban, sedangkan Hari Arafah adalah hari ketika kalian (jamaah haji) berkumpul di Arafah. (HR as-Syafii dari ‘Aisyah, dalam al-Umm, juz I, hal. 230).
Tidak ada seorang pun yang mengingkari hadits ini bahwa wukuf dilaksanakan pada hari Arafah. Hari Arafah hanya penamaan 9 Dzulhijjah, sama halnya dengan Yaum Nahar untuk 10 Dzulhijjah, dan Yaum Tasyrik untuk 11-13 Dzulhijjah. Karena Yaum Arafah hanya penamaan hari, maka sebagian besar ulama di Indonesia dan Malaysia serta beberapa negera lainnya memahaminya bahwa hari itu bisa ditentukan secara lokal tergantung kondisi hilalnya.
Di wilayah sekitar Arafah, shaum Arafah dilaksanakan bersamaan dengan wukuf karena di sana pun 9 Dzulhijjah. Di tempat lain, shaum Arafah juga dilaksanakan pada hari Arafah (artinya 9 Dzulhijjah) yang ditentukan secara lokal, namun belum tentu bersamaan dengan wukuf. Kalau pelaksanaan shaum Arafah yang tidak bersamaan dengan wukuf dianggap kesalahan, anggapan itu haruslah didukung dalil qath’i yang tegas memerintahkan shaum Arafah saat jemaah haji sedang wukuf. Sayangnya dalil qath’i (tegas) seperti itu tidak ada atau belum saya temukan.
Belum lagi masalah beda waktu untuk wilayah yang jauh dengan Arab Saudi yang juga harus difahami. Tidak sekadar menyamakan hari (misalnya Senin wukuf, shaum juga harus Senin) yang pada dasarnya merujuk pada definisi hari garis tanggal internasional (hasil konvensi manusia), bukan hari menurut garis tanggal qamariyah (murni aturan Allah sesuai sunnatullah). Tanpa pemahaman fisik bulatnya bumi, kita bisa terjebak pada konsep kesamaan hari konvensi buatan manusia dengan mengabaikan hakikat hari menurut kaidah qamariyah. Dengan kata lain, karena ketidaktahuan konsep fisisnya, niat ikhlas menerapkan syariat bisa terbelokkan oleh penafsiran manusiawi yang mementingkan kesamaan hari dalam konsep garis tanggal internasional dan mengabaikan konsep hari menurut garis tanggal qamariyah.
Perbedaan pemaknaan hari Arafah dan implementasinya bisa berdampak pada perbedaan penentuan hari Idul Adha. Hari Idul Adha adalah tanggal 10 Dzulhijjah, arinya keesokan hari setelah Hari Arafah.