SEJARAH SINGKAT TOKOH FILSAFAT ISLAM AL-FARABI DAN ASPEK-ASPEK PEMIKIRAN PENDIDIKANNYA

SEJARAH SINGKAT AL-FARABI DAN ASPEK-ASPEK PEMIKIRAN PENDIDIKANNYA A. Riwayat Hidup Al-Farabi dan Karyanya. Al-Farabi yang memilki nama lengkap Abu Nasr Muhammad Ibnu Muhammad Ibnu Turkhan. Al-Farabi hidup pada 259-339 H/ 872-950 M. Kendati ia dipandang sebagai bintang terkemuka di kalangan pemikir muslim, informasi tentang dirinya sangatterbatas. Umumnya para penulis menyatakan bahwa al-Farabi itu merupakan orang Turkey (ayah dan ibunya orang Turkey) Tabi Ibn Abi Usaibah menyebutkan bahwa ayahnya seorang jenderaladalah seorang Persia. Sejarah hidupnya kurang begitu jelas, apa yang diketahui bahwa dalamusia 40 tahun, ia meninggalkan kota kelahirannya, Farob menujukota Bagdad, kota ilmu pengetahuan dan pusat pemerintahan waktu itu. Di kota ini, ia mulai belajar ilmu mantik pada Abu Basyar Mating Ibn Yunus, dan kemudian ia menuju ke Harran dimana ia melanjutkanstudinya pada Yuhana ibn Hilan. Tampaknya sewaktu di Bagdad iabelum mahir benar bahasa Arab, sehingga ia belajar kaidah-kaidahbahasa ini pada Abu Bakar Ibn asSarraj. Tidak lama al-Farabi menetap di Harran dan kemudiania balik ke kota Bagdad untuk memperdalam dan menggali ilmu-ilmu hikmah. Di sini ia menghabiskan waktu selama kurang lebih tiga puluh tahun untuk menulis dan membuat ulasan tehadap buku-buku falsafah Yunani juga mengajar ( mendidik). Pada tahun 330 H./ 941 M. al-Farabi pindah ke Damaskus kemudian berkenalan dengan Gubernur Aleppo (Halab),Saifuddaulah al-Hamdani, Gubernur ini sangat terkesan dengan kealiman al-Farabi lalu diajaknya ke Aleppo kemudian ia mengangkat al-Farabi sebagai seorang ulama istana. Dalam jabatan ini, ia berada dalam kehidupan mewah karena tunjangan besar sekali. Namun sebagai seorang yang telah memilih kehidupan zuhud al-Farabi tidak tertarik dengan kekayaan itu. Ia hanya memerlukan empat dirham saja sehari untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sisatunjangan yang diterima, dibagi-bagikan pada fakir miskin dan usaha-usaha sosial lainnya. Al-Farabi adalah sosok pendidik yang ulet, dalam membangun keragaman ilmu demi masa depanIslam, pikiran-pikirannya penuh hikmah dan bermuatan psikologissehingga sangat menjentuh jiwa manusia. Jiwannya dididik denganhidup zuhud sehingga tidak terpangaruh dengan kehidupan material yang glamor. Hidupnya juga diwarnai dengan ketekunanmembaca dan menulis. Diriwayatkan bahwa ia sering kelihatan pada waktu malam di bawah sinar lampu untuk membaca dan mengarang. Hampirsemua ilmu pengetahuan yang berkembang di zamanya telah dikuasai dengan baik sehingga telah mampu mengklasifikasikan ilmu dengan segala cabangnya dalam bukunya yang mirip dengan ensiklopedi yang berjudulihsha’n al ‘ulum. Selain mengarangia juga dikenal sebagai komentator buku-buku filsafat Yunani. Pada abad pertengahan ia sangat dikenal sehingga banyak orang-orang Yahudi yang mempelajari buku-bukunya dengan tekun dan kemudian menyalinnya kedalam bahasa Ibrani. Lewat bahasa ini, melahirkan revisi dan oplah yangsangat banyak dengan edisi moderennya. Al-Farabi sangat terkesan dan hormat kepada para filosof Yunani terutama Plato dan Aristoteles. Dalam kitab-kitabnya ia tidak menyebutkan Aristoteles secara langsung, tapi dipanggilnya dengan gelar Mu’alim awwal (guru pertama), karena sangat mendalam pengetahuannya tentang filsafat Aristoteles terutama komentar dan ulasan terhadap berbagai karangannya maka al-Farabi digelar orang kemudian sebagai mu’alim tsani (guru ke dua). Seolah-seolah tugas Aristoteles dalam falsafah telah selesai maka untuk selanjutnya tugas tersebut diteruskan oleh al-Farabi sehingga ia digelari tersebut. Sebagai bukti atas pemahaman al-Farabi yang mendalam terhadap falsafah Aristoteles, ada riwayat yang menyebutkan bahwa Ibn Sina pernah membaca buku metafisika karangan Aristoteles sebanyak lebih kurang empat puluh kali. Hampir saja seluruh isi buku itu dihafalnya, namun tidak dipahaminya, kemudian ia menemukan sebuah karangan al-Farabi, Tahqiq Ghard Aristu fi Kitab ma Ba,du at-Tabi’ah yang menjelaskan tujuan dan maksud metafisika Aristoteles, ia langsung memahaminya. Ini bermakna bahwa sosok al-Farabimemilki metode khusus sehingga mudah dipahami karya-karyanya.Adapun-karya-karya al-Farabi amat banyak namun yang masih dapat ditemukan dalam bahasa Arab ada tiga puluh buah kitab dan diantaranya yang sangat terkenal antara lain:.  Maqalah Fi Aghradhi Ma ba’da al-Thabi’ah  Ihsha’u al-Ulum  Kitab Ara’I Ahli al-Madinah al-Fadhilah B. Al-Farabi dan Konsep Pendidikan Jiwa (Analisis Pendidikan Dalam Konsep Pendidikan Jiwa). Pendidikan jiwa sebagai cabang dari psikologi5 dan merupakan spirit dari semua ilmu-ilmu lain kerena merupakan faktor penentu dalam proses berfikirnya manusia dalam kehidupan pada bingkai psikologis. Psikologi mempunyai jangkauan untuk mengurai, meramalkan dan mengendalikan tingkah laku manusia, maka konsep jiwa melangkah lebih jauh, yaitu memberikan garansi yang sepatutnya dilakukan oleh seseorang agar ia memiliki kesehatan mental yang wajar, memilki ketenangan dalam hidupnya dan mampu menggunakan potensi dirinya secara optimal dalam menunaikanamanah dalam hidupnya. Sosok pemikir al-Farabi adalah salah satu tokoh Islam yang sangat spektakuler gagasan- gagasannya, namun perlu penulistekankan, ia lebih dekenal dalam dunia Filsafat tinimbang dunia Psikologi. Pemikirannya mengenai jiwa manusia sangat ditentukan dengan kedekatannya dengan Tuhan. Karena untuk mendekati zat yang Maha bersih, manusia terlebih dahulu membersihkan jiwanya. Konsep pendidikan jiwa al-Farabi banyak terilhami oleh filsafat Plato, Aristoteles dan Plotinus. Menurutnya, bersifat rohani bukan materi, terwujud setelah adanya badan dan jiwa tidak berpindah-pindah dari suatu badan ke badan yang lain. Jiwa merupakan kesempurnaan bagi benda alami yang memilki kehidupan yang potensial. Bersatunya jiwa kepada materi membuat jasad yang potensial menjadi aktual. Bersatunya jiwa dengan jasad (tubuh, materi) adalah bentuk esensial. Oleh karena itu, jika jasad hancur jiwapun hancur kecuali jiwa berfikir (an-Nafs an-Natiqah). Dengan demikian, al-Farabi membagi jiwa kedalam beberapa bagian yaitu ; 1) jiwa penggerak (al-nafs al- muharrikah), 2) Jiwa menangkap (al-nafs al-mudrikah)dan 3) jiwa berfikir (al-nafs al-natiqah). Jiwa-jiwa tersebut merupakan potensi di dalam diri manusia yang akan melahirkan daya berfikir dan tenaga yang sangat efektif dan fantastik dalam mengubah suasana prilakudan sikap manusia dalam kehidupannya. Hal tersebut akanabadi sebagaimana abadinya dikenang kebaikan oleh manusia sepanjang sejarah. Jiwa yang abadi inilah, menurut penulis dalam perspektif kesehatan mental merupakan prilaku dan sikap dalam kehidupan yang mampu memberikan ketenangan dan kenyamanan jiwa kepada manusia, dalam istilah agamanya “ ‘amalun soleha”. Mentalitas yang dipenuhi jiwa berfikir ini merupakan substansi yang berdiri sendiri, yang berasal dari akal kesepuluh yang tidak hancur dengan hancurnya jasad. Menurut al-Farabi, 8 jiwa berasaldari akal kesepuluh dalam bentuk akal aktif (aktive intellec) yang telah memberikan forma (bentuk) kepada jasad. Jiwa (an-Nafs an Natiqah) merupakan hakekat manusia. Di lain sisi, menurut Ibn Maskawaih dalam tahzib al-akhlak adalah sesuatu yang bukan tubuh, bukan bagian dari tubuh, dan bukan pula materi. Seirama dengan itu, menurut al-Tusi, jiwa adalah bukan tubuh,bukan pula bagian dari tubuh dan bukan pula materi (‘arah).10Jiwa merupakan substansi sederhana dan immaterial yang dapat merasakan sendiri bahwa ia mengontrol tubuh melalui otot-otot dan alat perasa, tetapi ia sendiri tidak dapat dirasa lewat alat-alat tubuh. Hal ini senada dengan pengertian jiwa yang terdapat dalam kamusbahasa Indonesia, menurutnya jiwa adalah ruh atau nyawa yang ada dalam tubuh yang menyebabkan manusia itu hidup.Mental yang senantiasa terkooptasi dengan jiwa ilahiyah inilah dari refleksi berfikir al- Farabi, menurut penulis yang akan menjaga dan memelihara manusia untuk senantiasa berfikir dan bersikap lebih inovatif, kreatif dan produktif dalam membangun dunia pendidikan ke depan. Dengan sehatnya mental selalu menciptakan dinamika dan kompetisi yang sehat pula dalam kehidupan .Menurut al-Farabi jiwa manusia itu mempunyai empat bagian dasar, setiap bagian mempunyai kekuatan yang mengikutinya, yakni daya memakan, marasa, berkhayal, dan daya berfikir. Pertama, daya memakan (al-Quwwah al-Ghadziiyah) dengannya manusia tumbuh kemudian berkembang, kekuatanutama daya ini di mulut, sedangkan lainnya bersifat tambahan berada di bagian anggota-anggota dan alat-alat pencernaan, tersebar di perut besar, hati, empedu dan anggota- anggota yang berhubungan dengannya. Kedua, daya merasa (al-Quwwah al-Hassah) yaitu indera peraba, pengecap, pencium, pendengar dan penglihatan. Setiap indera mempunyai anggota yang khususbaginya yang menyerupai indera-indera tersebut dengan informan dalam kerajaan. Indera membawa berita kepada tuannya yang ada dalam hati sebagaimana informan menyampaikan berita kepada raja. Ketiga, daya imajinasi (al-Quwwah al-Mutakhayyilah) yang berfungsi menjaga benda-benda setelah berpisah dengan anggota inderawi yang menguasai daya imajinasi, yaitu dengan memisahkan satu sama lain menggabungkan satu denganyang lainnya dengan gabungan yang beraneka ragam sama dengan yang dirasa maupun tidak Keempat, daya berfikir (al-Quwwah al-Natiqah) yaitu kepala. Daya ini merupakan pemimpin dari kekuatan-kekuatan inderawi dan kekuatanimajinasi dan mempunyai kekuatan yang cenderung menginginkan sesuatu yang membencinya. Dari situ timbulnyakemauan (affective). Dari analisa tersebut di atas, bahwa dalam kehidupan memerlukan kecermatan dalam memenej tubuh kita baik yang bersifat materi maupun yang immateri. Bila terjadi ketidak seimbangan kebutuhan tersebut,baik materi maupun immateri maka disinilah menurut Bambang Suryadi akan terjadi gejala gangguan mental (neuroses), bahkan sakit jiwa (mental ill). Untuk mewujudkan kesimbangan dalam kehidupan menurutnya antara lain ada lima aspek yaitu; 1) spiritual Hablun minallah, 2) Intelektual, 3) Sosial hablun min an-nas, 4) Emosi, dan 5) fisik. Karena itulah Islam sangat perhatian kepada kehidupan yang seimbang dan manusia diharapkan untuk senantisa bekerja keras untuk menemukankenikmatan dan ketenagan yanglebih hakiki, baik di dunia maupundi akhirat. Hal tersebut bisa terwujud bila ia memilki kondisi jiwa yang memadai. Adapun hubungan antara proses pemikiran dan mental manusia menurut al-Farabi adalah kecenderungan seseorang terhadap suatu hal yang telah atau belum dipahami. Jika kecenderungan itu merupakan indera atau khayal maka ia disebut kemauan, ini berlaku bagimanusia dan hewan. Jika kecenderungan itu dengan pemikiran maka ia disebut pilihan(ikhtiar) dan ini khusus untuk manusia. Makanya dalam dunia pendidikan Islam, yang terlebih dahulu dibentuk adalah jiwa manusia, bila jiwa sudah terdidik maka dengan sendirinya akan memilki prilaku dan sikap berfikir yang lebih dewasa dan bersahabat pada semua lini kehidupan. Kekuatan daya berfikir manusia (natiqah) adalahsesuatu yang dahsyat dan unik karena dapat menembus hal-hal yang abstrak, membentuk pengertian-pengertian, membedakan antara yang indah dan jelek, menciptakan keterampilan dan ilmu pengetahuan. Dengan demikian lahirlah sebuah motivasi (al-quwwah an-nuz-‘iyyah) adalah awal proses terwujudnya kemauan. Jadi daya motivasi condongnya jiwa kepada obyek yang mendapat tanggapan dari penginderaan, penghayalan ataupemikiran. Keputusan jiwa terhadap obyek itu dapat diambilatau ditinggalkan. Daya kecondongan itu mempunyai pembantu-pembantu di tubuh yang tersebar pada otot-otot syaraf dan otot-otot di tangan, kaki dan seluruh anggota badan,serta dapat digerakkan sesuai dengan kemauan, maka lahirlah perbuatan yang diinginkan manusia atau binatang. Dari informasi resebut di atas, dapat dikatakan bahwa pencerahan jiwa manusia merupakan representasi dari daya nalar dansikap manusia yang kreatif yang didukung dengan menatalitas yang sehat yang senantiasa mendapatkan bimbingan dan petunjuk dari Tuhan-Nya. Pada manusia dan binatang menurut al-Farabi terdapat dua jenis syaraf. Pertama, syaraf yang punya daya penginderaan dan punya alat-alat penyerap yang masing-masing hanya menyerap satu obyek indera saja. Syaraf jenis yang pertama ini disebut, syaraf sensoris. Kedua, urat yang terdapat padaanggota badan. Dengan urat-urat ini memungkinkan seseorang mengadakan gerakan iradah-nya. Jenis kedua ini disebut syaraf-syaraf motoris. Syaraf ini yang berpusat di otak,ada pula yang berpusat di sum-sum punggung yang berhubungan dengan otak. Menurut Ibnu Sina, pengamatan indera itu terbagi ke dalam dua bagian: Indera nyata dan indera bathin; yang pertama berlaku melalui panca indera yaitu penglihatan, pendengaran,penciuman, pengecapan dan perabaan, sementara yang kedua berlaku melalui indera bathin, yaitu indera bersama, bentuk yang dihayalkan, kekuatan waham daningatan yang menghafal. Berkaitan dengan itu al-Farabi menjelaskan tentang kebahagiaan yaitu, kebaikan yang dicari kerena dirinya sendiribukan sebagai jalan untuk mencari yang lain. Sebab tidak ada lagi dibaliknya sesuatu yang lebih agung yang dicapai oleh manusia. Tujuan tertinggi dari kehendak dan kebebasan memilihmanusia adalah kebahagiaan berarti lepasnya jiwa dari segalayang berbau materil dan bergabungnya dengan alam yangperennial. Untuk mencapai hakekat kebahagian perennial, al-Farabi menekankan keutamaan yaitu suasana politik yang stabil. Dengan suasana demikian kebahagiaan dapat terwujud karena politik merupakan alat untuk mencapai tujuan dalam kehidupan. Politik adalah sarana untuk menciptakan hubungan yang lebih komunikatif, inovatif, homanis dan harmonis sehingga tercipta suatu tatanan masyarakat yang utama. Menurut penulis, al-Farabi terinspirasi pada teori Republika Plato, yang menggambarkan bahwa suatu negara sebagai suatu keseluruhan dari bagian-bagian yang terpadu serupa dengan organisme tubuh, tempatseluruh bagian saling bekerja sama dan masing-masing organ menjalankan fungsinya. Bila tubuh sehat maka seluruh komponen tubuh merasakan manfaatnya, begitupun sebaliknya. Demikian halnya negara utama tempat setiap individu masyarakat harus mempunyai tugas sesuai dengan kesanggupan masing-masing dan menciptakan kerjasama yang baik, sehingga tercipta suasana yang lebih harmonis, humanis danbahagia .Karena kebahagiaan masyarakat tidak akan tercapai kecuali jika pembagian kerja diantara individu-individu tersebut sesuai dengan kemampuan masing-masing dengan dijiwai semangat bertanggung jawab dan tolong menolong. Hidup bermasyarakat dan bekerjasama itu bertujuan untuk memperoleh kebahagiaan, maka negara yang baik menurutal-Farabi adalah yang bertujuan agar orang-orang yang berkumpul di dalamnya saling membantu terhadap hal-hal yangdapat memperoleh kebahagiaan hakiki, yakni negara utama. Pemimpin politik dalam filsafat kenegaraan bagaikan jantung di dalam tubuh yang merupakan sumber seluruh aktivitas, pangkal keselarasan dan keharmonisan. Tegasnya tidak hanya berkaitan dengan politik semata, melainkan juga berkaitan dengan moral, karena pemimpin negara menurut al-Farabi berperan sebagai guru (mu’allim), pembimbing, pengendaliserta pembuat undang- undang dan peraturan. Untuk menjadi pemimpin negara yang utama, diperlukan kualifikasi tertentu antara lain: keturunan orang baik, anggota tubuh yang sempurna, berani, cerdas, kuat ingatan, jujur, amanah, cinta ilmupengetahuan, pembela keadilan, mempunyai keteguhan hati, kuatcita-cita, tidak ambisius serta menjauhi kelezatan-kelezatan jasmani. Meskipun demikian al-Farabi menambahkan syarat lain yaitu pemimpin negara harusdapat naik ke derajat akal fa’al yang menjadi sumber wahyu danilham, dapat berkomunikasi dengan akal kesepuluh, penerimacahaya ketuhanan secara langsung dari roh tinggi dan para malaikat. Kesemua kretireiatersebut syarat dengan kesehatan mental, yang merupakan pencitraan dari jiwa yang selalu mendapat inspirasi dari Tuhan-Nya, sehingga melahirkan” amal yang utama”. Akal fa’al merupakan salah satu dari akal kesepuluh dan berpengaruh terhadap peristiwa- peristiwa yang terjadidi alam, sebagai titik yang menghubungkan antara hamba dengan Tuhan, dan sebagai sumber hukum dan undang-undang yang dibutuhkan bagi kehidupan moral dan sosial yang dibutuhkan bagi kehidupan moraldan sosial. Seorang pendidik harus memilki kecakapan dan keterampilan untuk mendapatkan kebahagiaan yang tinggi. Olehnya itu, seseorang harus mengetahui apa yang dimaksud dengan kebahagiaan itu, dan bagaimana cara untuk mencapainya sebagai tujuan hidup. Tetapi ketika individu manusia berbada, dan setiap individu tidak mengetahui rahasiakebahagiaan, maka ia membutuhkan guru untuk mendidiknya. Sebagai manusia ada yang tidak begitu membutuhkan bimbingan, tetapi sebagian besar manusia lainnya sangat membutuhkan petunjuk guru. Dengan demikian ia harus pergi untuk mendapatkan pengajaran, dan al-Farabi berpendapat, bahwa mengajar berarti menciptakan keunggulan secara umum (spekulatif) bagi negara dan bangsa, sedangkan pencontohan atau penanaman budi pekerti (ta’dib) adalah cara untuk menumbuhkan moral yang baik dan pengetahuan tentang seni. Adapun tujuan dari pengajaran adalah untuk membangun bangsa dan negara agar memiliki kecakapan dalam bidang ilmu pengetahuan. Selanjutnya al-Farabi mengingatkan bahwa yang dimaksud dengan speculative science adalah pengajaran yang dilakukan oleh raja atau pemimpin. Speculative science harus diajarkan dengan metode yang meyakinkan seperti metodelogika. Seorang guru juga harus mengetahui tentang sesuatu yang diajarkan kepada pendudukyang berbeda-beda. Selanjutnya al-Farabi berbicara mengenai duametode mengajar; pertama, untuk menimbulkan rasa kesalehan dan mengamalkan ilmu(arts) seperti metode yang meyakinkan, yaitu bahwa murid harus mengakuinya sebagai miliknya dan mengamalkannya secara spontan. Kedua, seorang guru harus menggunakan metode pemaksaan yang ditujukan untuk mereka yang tidak merasa memilki perasaan sebagai penduduk dan mereka yang tidak memilki kesadaran terhadap keberadaan dirinya. Lebih lanjut menurut al-Farabi, bahwa raja adalah seorang gurubagi suatu bangsa dan sebagai master bagi seluruh rumah, dan guru dihadapan murid ibarat sebuah rumah. Dengan demikian ia lebih dahulu menggambarkan kualitas raja dan iman secara ketat sama halnya dengan diharapkan bagi seorang guru. Mengenai kependidikan al-Farbi mengatakan tingkah laku yang baik dangan terwujudnya pengawasan diri terus menerus sampai kekuatan jiwa bahimiyah atau hewaniyah ditaklukkan olehkekuatan jiwa natiqah atau Insaniyah. Bila diabaikan, jiwa insaniyah akan cenderung jatuh ke dalam nafsu hewaniyah. Karena dalam diri manusia memiliki dua kekuatan jiwa yakni,kekuatan natiqah dan bahimiyah masing-masing dari keduanya memilki perangsang. Perangsang terhadap jiwa bahimiyah atau hewaniyah berupa rangsangan atau stimulus dari kelezatan.

IBNU SINA: Sejarah Hidup dan Falsafat al-Faid

SEJARAH HIDUP IBN SINA Abu Ali al-Husein Ibn Abdillah ibn Hasan ibn Ali ibn Sina (Avicenna) lahir di desa Afsyanah, tidak jauh dari Bukhara, pada tahun 370 H (980 M) pada masa khilafah Abbasiah mengalami kemunduran dan negerinegeri yang mula-mula berada di bawah kekuasaan khilafah tersebut mulaimelepaskan diri satu persatu untuk berdiri sendiri. Kota Bagsadsendiri, sebagai pusat pemerintahan khilafah Abbasiah, dikuasai oleh golongan Banu Buwaih pada tahun334 H, dan kekuasaan mereka berlangsung terus sampai tahun 447 H. (Hanafi, h. 168) Di Bukhara ia dibesarkan dan belajar falsafat, kedokteran dan ilmu-ilmu agama Islam.Dalam usia sepuluh tahun ia telah banyak memperlajari ilmu agama Islam danmenghafal Al-Quran seluruhnya. Dalam usia enam belas tahun ia telah dikenal sebagai seorang dokter yang ahli dalam pelbgai penyakit. Kemudian ia mengembangkan teori yang diperolehnya dengan pelbagai percobaan empiris melalui pengobatan orang sakit. Dalam usia delapn belas tahun ia telah menguasai berbagai cabang ilmu pengetahuan seperti falsafat, matematika, astronomi, musik, mistik, bahasa dan ilmu hukum Islam. Namanya semakin menanjak dalam ilmu kedokteran, terutama setelah ia mampu menyembuhkan penyakit yang diderita oleh penguasa Bukhra, Nuh ibn Mansur (387 H./997 M.). Sebagai imbalannya, Sultan ini mengizinkanIbn Sina memanfaatkan perpustakaannya yang penuh berisi buku-buku yang sukar diperoleh dalam perpustakaan lain. (Al-Raniri, h. 92) Di antara gurunya adalah Abu Abdillah al-Natili, yang telah mengajarnya logika, geometri danastronomi. Ia pernah membaca metafisika Aristoteles sebanyak empat puluhkali tanpa dapat memahami maksud pengarangnya. Buku tersebut dapat dipahami nya setalah dia membaca buku komentar atas metafisika Aristoteles karangan Al-Farabi. (Fakhri, h. 192 dan Edward, h. 226). Dalam usia dua puluh tahun, ayahnya meninggal dunia. Musibahini telah menimbulkan beban berat atas kehidupan Ibn Si na, sehingga ía meninggalksn Bukharamenuju Jurjan. Di kota ini ia berjumpa dengan ibn Ubaid al-Juzajani yangkemudian menjadi muridnya yang menulis sejarah hidupnya. Karena kekacauan politik, Ia tidak lama menetap di kota ini, lalu pargi ke Hamazan, di mana penguasa wilayah ini, Syamsu al-Daulah, telah mengangkatnya menjadi menteri sebagai imbalan atas keberhasilanIbn Sina menyembuhkan penyakit yang dideritanya. Pada waktu Itu al-Juzajani meminta Ibn Sina menulis suatu buku yang lengkap tentang falsafat Aristoteles. Lalu Ia menulisbagian alam dari kitab al-Syifa, di samping melanjutkan penulisan kitab tentang ilmu kedokteran, al-Qanun fi al-Tibb, yang bagian pertamanya telah ditulis di Jurjan. SUMBER: http://www.irfan-na.blogspot.com

Steve Jobs Ternyata Berasal dari Garis Keturunan Nabi Muhammad

Asal usul mendiang bos Apple, Steve Jobs, terus jadi bahan berita. Setelah diketahui ia ternyata punya darah Suriah, dari ayahnya, Abdul Fattah John Jandali, ada satu lagi temuan yang unik.

Setelah dirunut-runut, riwayat keluarga Jandali ternyata salah satu keluarga terkemuka di Homs, Suriah. Sepupu Steve Jobs, Bassma Al Jandali, menegaskan trah Jandali punya garis keturunan langsung dengan Nabi Muhammad SAW!

“Ayah Steve, Paman saya, Abdul Fattah John Jandali datang dari Homs. Keluarga Jandali adalah keluarga yang punya hubungan darah dengan keluarga Nabi Muhammad SAW,” kata Bassma, seperti dikutip dari Gulf News. Basma adalah seorang jurnalis di Timur Tengah.

Steve Jobs Jandali pun ternyata punya nama Arab. Nama Arabnya adalah Abdul Lateef Jandali. Ketika ia lahir dan diadopsi oleh keluarga yang memberinya nama Steve Jobs.

Bassma bercerita, ketika kecil ibunya Bushra Jandali Rifa’e kerap mengatakan ada keturunan Jandali yang hidup di AS. Itu adalah pamannya, Abdul Fattah Jandali, yang juga ayah Steve Jobs.

Belakangan, paman Bassma lainnya Abdul Wahid, bercerita kalau Abdul Fattah Jandali akhirnya punya anak di luar nikah dengan Joanne. Anak itu akhirnya diadopsi oleh keluarga lain. Abdul Fattah memilih tak pulang ke Suriah karena malu akan skandalnya. Tapi akhirnya ia tetap menikahi Joanne dan punya puteri (adik Steve Jobs) bernama Mona Jandali Simpson.

“Kami memang tak pernah bertemu. Tapi kami semua di bawah trah Jandali tetap punya hubungan. Saya merasa seharusnya saya bertemu Steve. Seharusnya saya melepasnya, mengatakan sampai jumpa..,” kata Bassma.

Rahasia Terbesar Dalam Hidup Steve Jobs

Semua orang pasti punya masa lalu, begitu juga dengan Steve Jobs. Keberhasilannya mendirikan Apple Inc, membuat banyak orang ingin mengetahui silsilahnya. Namun selama masa hidupnya, Steve tutup rapat-rapat rahasia itu semua dari publik.

Pada November 1996, wartawan New York Times, Steve Lohr, diajak oleh pendiri Apple, Steve Jobs, berjalan-jalan dengan mobil kesayangannya Porsche warna abu-abu. Sepanjang jalan di San Fransisco, AS, Steve bercerita banyak tentang pekerjaannya dan bercita-cita ingin membesarkan Apple.

Maklum, waktu itu setelah hengkang, Steve memutuskan untuk kembali ke Apple. Segala hal diceritakan Steve Jobs kepada Steve Lohr. Namun, dari semua yang dia tuturkan, tak satu terkait dengan silsilah dirinya. Padahal,waktu itu semua orang sudah mafhum kalau Steve Jobs adalah anak adopsi pasangan suami istri, Paul Jobs dan Clara Hagopian.

Dalam tulisannya yang diterbitkan oleh New York Times pada Januari 1997, Steve Lohr menuliskan, pria kelahiran 24 Februari 1955 itu nampak enggan membicarakan siapa sebenarnya keluarga kandungnya. Karena dia sendiri belumlah mengetahui persis bagaimana cerita itu. Namun yang pasti, Steve Jobs mengatakan kalau dirinya tidak akan pernah menyerah mencari siapa sesungguhnya orang tuanya atau pun saudaranya.

Sudah jadi Takdir Illahi, pada Kamis dini hari, 6 Oktober 2011 kemarin, waktu Amerika, dia meninggal karena sakit kanker pankreas. Kepergiannya, seraya menghantarkan terkuaknya rahasia terbesar dalam hidupnya.

Steve Jobs ternyata adalah anak dari Abdul-Fattah “John” Jandali, seorang lelaki muslim Suriah, dan pacarnya, Joanne Schieble adalah perempuan Kristen Amerika keturunan Jerman yang keluarganya terkenal konservatif. Saat Steve Jobs lahir, kedua kekasih yang tinggal di Wisconsin, AS ini sama-sama berusia 23 tahun.

Jandali lahir di Kota Horm, Suriah, pada 1931. Ia satu-satunya anak lelaki dari lima bersaudara. Ayahnya seorang tuan tanah. Pada umur 18 tahun, Jandali kuliah di Universitas Amerika di Beirut, Libanon, Ia dikenal sebagai pegiat yang mendukung Pan-Arab. Setelah lulus, Jandali menjadi imigran di Wisconsin, AS

Namun, hubungan Jandali dan Schieble tidak direstui orang tua masing-masing. Terutama ayah dari Schieble yang tidak menginginkan putrinya menikah dengan seorang muslim dan imigran Suriah juga. Perbedaan itulah yang membuat mereka harus mengurungkan niatnya untuk menikah seperti dilansir Jandali dalam wawancara dengan the New York Post, Agustus 2011.

Dengan adanya bayi tersebut, awalnya secara diam-diam, karena khawatir kuliahnya terganggu, Schieble membawa pergi Steve Jobs dari Wisconsin ke San Fransisco, AS Akhirnya mereka sepakat menyerahkan anak yang belum diberi nama itu kepada suatu keluarga yang ingin mengadopsi.

Menurut Jandali kepada Saudi Gazette, saat itu ada dua keluarga yang hendak mengadopsi anak mereka. Pertama adalah pasangan pengacara dan istrinya. Namun, mereka mengurungkan niatnya, karena bayi itu adalah laki-laki. Mereka berencana mengadopsi anak perempuan.

Pasang yang kedua ternyata jauh dari harapan. Mereka sendiri hidupnya, boleh dikata kurang mampu. Hanya mengenyam pendidikan setingkat sekolah menengah atas. Namun, keinginan yang besar justru diperlihatkan pasangan Paul Jobs dan Clara Hagopian untuk mengadopsi bayi itu. Maklum saja, selama tujuh tahun pernikahannya, pasangan ini belum juga dikaruniai seorang anak.

Melihat itu, akhirnya Schieble rela memberikan buah kasihnya kepada mereka dengan syarat mereka harus mampu menyekolahkan anak yang mereka adopsi hingga kuliah.

Dari sinilah, si jabang bayi Steve Jobs itu memulai hidup barunya. Paul dan Clara memberikan nama bayi adopsinya itu Stephen Paul Jobs yang kemudian akrab disebut Steve Jobs. Semasa kecilnya, Steve Jobs tergolong bocah yang nakal. Dia dikenal oleh teman-temannya di sekolah dasar sebagai “tukang teror”. Salah satu kenakalannya waktu itu adalah melepaskan ular dan meledakkan petasan di kelas.

Steve Jobs kecil pun mulai beranjak dewasa. Dia sekolah di Homestead High Schoool di Cupertino, CA. Seusai sekolah, dirinya selalu meluangkan waktu untuk mendengarkan lektur dari Hewlett-Packard Company di Palo Alto tak jauh dari sekolahnya. Ketika musim panas, dia pun bekerja part time di sana. Bersama sahabatnya, Steve Wozniak. Pada tahun 1972 selepas SMA dan melanjutkan kuliah di Reed College di Portland, OR.

Namun dia hanya satu semester saja di tempat itu dan kemudian drop-out. Walau sudah tak lagi tercatat sebagai mahasiswa, Steve masih sering mengikuti kuliah, khusus untuk mata kuliah yang dia sukai saja selama 18 bulan. Ini jadi salah satu masa tersulit dalam hidupnya. Steve Jobs remaja, tidur di mana saja semaunya. Bila lapar datang, Steve Jobs mengumpulkan kaleng alumunium untuk dijual atau cari makanan gratis dari Kuil Hare Krisna di Portand.

Ia pun memutuskan untuk kembali ke California pada tahun 1974. Kemudian, dirinya ikut klub Homegrew Computer. Berbekal dari sana, dirinya diterima bekerja sebagai teknisi di perusahaan Atari (perusahaan Video Game). Di perusahan itu, dirinya tertarik dengan ajaran Budha. Di tahun itu juga, perusahaan itu mengizinkan dia berkelana ke India guna mempelajari Buddha Zen.

Sekembalinya dari India, layaknya seorang biksu, kepalanya botak, menggunakan jubah dan tidak makan daging. Dia pun kembali berkerja di Atari dan diberi tugas membuat circuit board yang cepat dan efisien. Sejak itulah, kehidupannya mulai berubah. Penghasilannya pun boleh dikata cukup berlimpah. Dan berkeinginan membuat perusahaan sendiri.

Keinginannya itu terkabul. Di tahun 1976, Steve Jobs, dan sahabatnya semasa remaja, Steve Wozniak yang kini telah menjadi seorang hacker dan Ronald Wayne, mendirikan perusahaan yang kini terkenal bernama Apple. Selain itu, mereka pun mendapatkan bantuan dana dari A.C. “Mike” Markkula Jr seorang insinyur dan produk marketing dari Intel Corp. Berkat kerja kerasnya, mereka buat Apple Inc. kini menjadi salah satu perusahaan terhebat di dunia sekaligus membawa Steve Jobs sebagai orang terkaya ke-136 versi majalah Forbes 2010 dengan kekayaan US$5,5 miliar kala itu.

Keberadaan orang tua kandungnya
Di saat Steve Jobs memulai kehidupan bersama Paul dan Clara, Abdulfattah Jandali dan Schieble memutuskan untuk berpisah. Tak lama kemudian, ayah Schieble meninggal dunia. Berbekal cinta yang kuat diantara mereka, Jandali dan Schieble bersatu kembali dan memutuskan untuk menikah. Setelah itu Joanne Schieble melahirkan anak kedua mereka yang diberni nama Mona Jandali.

Namun, hubungan keduanya kembali retak. Di usia Mona yang menginjak empat tahun, Jandali memutuskan kembali ke Suriah guna mengejar karier di pemerintahan Suriah. Tidak ingin ditinggal jauh, Schieble memutuskan bercerai. Ia kemudian menikah lagi dengan George Simpson.

Tak berbeda dengan Steve, adiknya, Mona pun bernasib sama. Dia harus dibesarkan di keluarga yang tidak utuh. Hingga akhirnya ibunya, Schieble menikah dengan Simpson. Sang ibu merubah namanya menjadi Joanne Simpson. Begitu juga anak bungsu Abdulfattah Jandali, berubah nama menjadi Mona Simpson.

Waktu berkata lain, Meski keluarga Jobs dan Simpsons hingga jatuh bangun membiayai anak-anak mereka, hasilnya justru luar biasa. Kedua kakak-beradik ini tumbuh menjadi sosok yang membanggakan di bidangnya masing-masing.

Steve Jobs sukses besar dengan Apple sementara Mona Simpson menjadi seorang penulis terkenal di Amerika Serikat. Buku pertamanya ‘Anywhere but Here’ berhasil menjadi bestseller di Negeri Paman Sam. Berkat buku inilah hubungan Steve Jobs dan keluarga aslinya terkuak.

Di pesta syukuran atas larisnya buku ‘Anywhere but Here’, Steve Jobs dan ibunya, Joanne Simpson, serta adiknya Mona Simpson berkumpul bersama untuk pertama kalinya. Sayangnya, Mona, Steve, dan Joanne kompak untuk tidak menceritakan secara detail mengenai kehidupan mereka kepada media massa. “Saya dan kakak saya sangat dekat. Saya sangat mengaguminya,” ujarnya Mona. Begitu juga Steve Jobs bahkan menyebut novelis itu sebagai sahabat yang paling dekat seperti dilansir the New York Times.

Meski telah menemukan keluarga asli, sulit bagi Steve Jobs untuk melupakan budi baik Paul dan Clara Jobs. Kerja keras orang tua angkatnya tersebut selalu menjadi inspirasi Steve Jobs. Atas dasar itulah, Steve Jobs tetap bungkam ketika ayah kandungnya, Abdulfattah Jandali, berbicara kepada The Sun dan Saudi Gazette tentang penyakit kanker yang dideritanya pada Agustus lalu. Sayangnya, sampai dengan akhir hayatnya Steve tidak pernah bertemu Jandali, ayah kandungnya.

Kepada tabloid the Sun, Agustus lalu, Jandali menyatakan keinginnya untuk bisa bertemu Steve Jobs. “Saya berharap sebelum terlambat ia akan menemui saya. Meski hanya untuk minum kopi, itu akan membuat saya senang sekali,” katanya.

Jandali menegaskan, keinginannya bertemu dengan sang anak bukan karena mengincar kekayaannya yang kini diperkirakan US$8 miliar. “Saya punya uang sendiri. Yang saya tidak punya adalah putera saya… itu membuat saya sedih.” ungkpanya. Tapi, Steve Jobs tidak mau menanggapi permintaan itu.

Kini, Jandali telah berusia 80 tahun dan tinggal di Reno, sebuah kota dekat Nevada. Profesor Ilmu Politik itu, bekerja sebagai wakil presiden di sebuah kasino ternama di kota itu.

SUMBER : PALINGSERU
SKALA NEWS

Biografi dan Profil Ayu TingTing

Biografi dan Profil Ayu TingTing

Biodata dan Profile Ayu Ting Ting – Pastinya anda pernah dengar hits yang sangat populer berjudul alamat palsu, inilah artis yang nantinya akan kami bahas lengkap mulai dari profil, perjalanan karir hingga dia seperti sekarang ini, pastinya anda juga penasaran ingin tahu lebih jauh tentang ayu ting-ting yang wajahnya sangat sering sekali muncul di layar kaca memasarkan ringtone lagu miliknya.

Perlu anda ketahui ayu ting ting ini pernah meraih beberapa prestasi yang sangat cemerlang sekali, pada tahun 2006 dia menyabet gelar sebagai Bintang sari ayu, bayangkan saja produk kecantikan tersebut telah menobatkan ayu tingting sebagai bintangnya, dan juga pada tahun tersebut dia juga meraih mojang depok, sebuah prestasi yang sangat membanggakan sekali sebagai seorang wanita yang masih muda.

Langsung saja sekarang ini akan kami berikan biodata ayu ting ting yang mungkin anda belum tahu dengan detail, silahkan saja di simak di bawah ini :

Biodata Ayu Ting Ting
Nama : Ayu Tingting
Tempat, tgl lahir : Depok, 20 Juni 1990
Profesi : Penyanyi dangdut, presenter, model
Tinggi badan : 160 cm
Berat badan : 45 kg

Prestasi Ayu ting ting :
Bintang sari ayu 2006, Putri Depok 2006, Mojang Depok, Presenter Kuis (ANTV), Album Dangdut (Geol Ajep2)

Album Atu tingting : Dangdut (Rekening Cinta), Goyang Sejati (ANTV), Dangdut Yoo (TPI), Kamera Ria (TVRI), Dangdut Pro (TVRI)

Foto Ayu Ting Ting :

Di atas sudah saya berikan profil ayu tingting lengkap, perlu anda ketahui banyak sekali artis yang bilang kalau ayu akan menjadi penyanyi besar, apakah nantinya dia akan mengalahkan ketenaran julia peres atau akan mengalahkan kegemarlapan dari dewi persik, kita lihat saja perkembangannya, karena semua itu hanya prediksi saja, yang pasti anda sudah tahu tentang ayu ting ting.