Perumahan Eco Park Residence Lokasi Elit Dan Strategis jl STM Ujung sebelah kanal Kota Medan Sumatera Utara Indonesia

PROMO DISCOUNT RP40.000.000 Perumahan Eco Park Residence.Lokasi Elit&Strategis jl.STM Ujung sebelah kanal, Kota Medan Sumatera Utara Indonesia Hubungi ALIBABA hp: 085297399316 (Telkomsel) / 081533188336 (Indosat) / 061 77185888 (Flexi) TTD http://www.king-ali.tk

Advertisements

Potensi Wisata Belanja di Pajak Ikan Kota Medan

Terdapat sekitar 2,9 juta orang Indonesia bergelut dengan dunia pariwisata di Indonesia dengan total pendapatan tidak kurang dari 224,9 Milyar/tahun. Jumlah yang sangat besar bukan? Jumlah orang yang bekerja di sektor ini membuktikan bahwa pariwisata merupakan industri yang menimbulkan multiple effect bgi perekonomian di Indonesia. Banyak penduduk Indonesia menggantungkan kehidupannya pada sektor ini baik secara perseorangan maupun sebagai suatu kelompok usaha. Bukan hanya untuk unit yang berhubungan langsung dengan dunia pariwisata, seperti hotel, travel dan airline. Tapi juga unit lini kedua, seperti bank, kantor pos, tempat laundry bahkan pasar rakyat. Pasar rakyat atau pasar tradisional dari dulu tidak meninggalkan peran sertanya dalam dunia pariwisata. Setidaknya sebagai pemasok/supplier bagi hotel, karyawan travel/airline. Hubungan yang terjadi adalah hubungan tidak langsung, karena sebagai pemasok, pasar tradisional tidak berinteraksi langsung dengan wisatawan. Namun pariwisata terus berkembang dan memberikan kesempatan bagi pasar tradisional untuk memaksimalkan peranannya di bidang pariwisata. Pasar tradisional bukan hanya mampu menjadi pemasok, tapi juga objek wisata yang dikunjungi. Lazimnya mereka disebut sebagai objek wisata belanja (shopping tour). Salah satu pasar tradisional yang mulai dilirik sebagai objek wisata belanja adalah Pajak Ikan yang berlokasi di kota Medan . Pajak dalam bahasa local berarti pasar. Tapi pengertian pajak ikan bukanlah pasar, tempat jual beli ikan. Melainkan komoditi yang dijual adalah komoditi tekstil, seperti bahan kain, sprei, bed cover, handuk dan aneka rupa sandang lainnya. Pajak ikan berlokasi di pusat kota Medan , berdekatan dengan Merdeka Walk dan areal kota tua Medan . Tentunya lokasi ini sangat menguntungkan, karena strategis sehingga mudah dicapai dengan beragam kendaraan. Uniknya, penjual di pajak ikan ini bukan hanya penduduk asli, namun juga penduduk keturunan India dan Arab. Sehingga tidak jarang kita juga menemui komoditi berbau negara tersebut di pasar ini, seperti pacar Arab, Parfum non alcohol, dan lain-lain. Pajak ikan terdiri atas 2 bagian, yaitu pajak ikan lama dan pajak ikan baru. Pajak ikan lama lebih sempit dan lebih sederhana dibanding pajak ikan baru. Pajak ikan lama terdiri atas toko-toko kecil, sedangkan pajak ikan baru dibangun sebagai jejeran ruko-ruko yang lebih besar. Namun banyak orang masih lebih menyukai pajak ikan lama karena harga yang ditawarkan lebih murah. Menurut Yvette Reisinger dalam bukunya Buhalis dan Costa (Tourism Business frontiers, 2006 : 127), wisatawan memanfaatkan”belanja”sebagai motivasi perjalanan, atraksi wisata dan aktivitas wisata . Wisatawan melaksanakan kegiatan ini untuk mengambil keuntungan dari harga murah yang ditawarkan untuk produk local, brand dan keunikan produk. Di pajak ikan, telah banyak wisatawan local dan internasional (kebanyakan dari Malaysia) yang menjadi consumer. Alasan utamanya adalah karena harga yang murah dan banyaknya pilihan produk yang ditawarkan. Walaupun telah dikunjungi oleh wisatawan, penulis masih meragukan jika label”objek wisata belanja”dilekatkan begitu saja pada pajak ikan. Penulis berasumsi masih diperlukan adanya strategi pengembangan agar pajak ikan bukan hanya sekedar pajak ikan seperti yang biasa kita lihat saat ini. Tapi mampu bersaing Harrods di London dan Nike Town di Chicago. Seperti yang kita ketahui, bahwa destinasi shopping tour di kawasan Asia belum mencantumkan nama Indonesia di peringkat 3 besar, karena kita masih dianggap kalah dengan Hongkong, Singapura dan Thailand. Jika pajak ikan berhasil dikembangkan, bukan mustahil akan memberi pengaruh positif bagi pasar-pasar tradisional lainnya untuk ikut berkembang sebagai objek wisata belanja. Menurut Reisinger dalam buku yang sama, terdapat beberapa factor untuk menghasilkan produk wisata berbasis belanja, diantaranya desain produk yang dijual, keunikan, nilai dan manfaat, reputasi produk, outlet penjualan, layanan, metode pembayaran dan harga, opening hours, lingkungan sekitar dan proses distribusi. Selain itu, strategi pengembangan yang ditawarkan untuk fungsi pengembangan adalah dengan jalan marketing, yaitu dengan melakukan promosi, menawarkan pengalaman unik dalam belanja, pelaksanaan event-event di lokasi belanja dan sekitarnya serta pengembangan fasilitas yang terstandar (toilet, restaurant/food court). Keseluruhan factor diatas dapat disatukan dalam konsep shopper-tainment, yaitu pengembangan objek wisata belanja dengan dasar memberikan kesenangan dan hiburan bagi pengunjungnya. Sekarang, kita berbalik kepada pajak ikan. Mampukah pajak ikan terus berkembang? Siapakah yang bertanggung jawab untuk memastikannya? Dan apakah impian menyejahterakan masyarakat local melalui pengembangan objek wisata belanja dapat terwujud, atau lagi-lagi pengusaha besar lah yang akan meraup keuntungannya? Untuk itu diperlukan penelitian yang lebih serius mengenai hal ini. Selain pajak ikan, masih ada beberapa daerah yang patut dipertimbangkan sebagai objek wisata belanja yang perlu dikembangkan, yaitu kedaung market, ceramic market (di Belawan), petisah dan sambu/sentral sebagai pasar tradisionalnya. Sedangkan untuk shopping object yang lebih mewah, terdapat Paladium, Medan Fair, Sun Plaza, Milenium Plaza dan lain-lain. Jika semua objek ini mampu disinergikan pengembangannya, Kota Medan akan mampu bersaing sebagai kota belanja internasional. Mengapa tidak? Toh kota Medan merupakan salah satu gerbang internasionalnya Indonesia dengan aksesibilitas yang mudah dijangkau dari negara lain, terutama Malaysia dan Singapura.

Potensi Wisata Belanja di Pajak Ikan Kota Medan

Terdapat sekitar 2,9 juta orang Indonesia bergelut dengan dunia pariwisata di Indonesia dengan total pendapatan tidak kurang dari 224,9 Milyar/tahun. Jumlah yang sangat besar bukan? Jumlah orang yang bekerja di sektor ini membuktikan bahwa pariwisata merupakan industri yang menimbulkan multiple effect bgi perekonomian di Indonesia. Banyak penduduk Indonesia menggantungkan kehidupannya pada sektor ini baik secara perseorangan maupun sebagai suatu kelompok usaha. Bukan hanya untuk unit yang berhubungan langsung dengan dunia pariwisata, seperti hotel, travel dan airline. Tapi juga unit lini kedua, seperti bank, kantor pos, tempat laundry bahkan pasar rakyat. Pasar rakyat atau pasar tradisional dari dulu tidak meninggalkan peran sertanya dalam dunia pariwisata. Setidaknya sebagai pemasok/supplier bagi hotel, karyawan travel/airline. Hubungan yang terjadi adalah hubungan tidak langsung, karena sebagai pemasok, pasar tradisional tidak berinteraksi langsung dengan wisatawan. Namun pariwisata terus berkembang dan memberikan kesempatan bagi pasar tradisional untuk memaksimalkan peranannya di bidang pariwisata. Pasar tradisional bukan hanya mampu menjadi pemasok, tapi juga objek wisata yang dikunjungi. Lazimnya mereka disebut sebagai objek wisata belanja (shopping tour). Salah satu pasar tradisional yang mulai dilirik sebagai objek wisata belanja adalah Pajak Ikan yang berlokasi di kota Medan . Pajak dalam bahasa local berarti pasar. Tapi pengertian pajak ikan bukanlah pasar, tempat jual beli ikan. Melainkan komoditi yang dijual adalah komoditi tekstil, seperti bahan kain, sprei, bed cover, handuk dan aneka rupa sandang lainnya. Pajak ikan berlokasi di pusat kota Medan , berdekatan dengan Merdeka Walk dan areal kota tua Medan . Tentunya lokasi ini sangat menguntungkan, karena strategis sehingga mudah dicapai dengan beragam kendaraan. Uniknya, penjual di pajak ikan ini bukan hanya penduduk asli, namun juga penduduk keturunan India dan Arab. Sehingga tidak jarang kita juga menemui komoditi berbau negara tersebut di pasar ini, seperti pacar Arab, Parfum non alcohol, dan lain-lain. Pajak ikan terdiri atas 2 bagian, yaitu pajak ikan lama dan pajak ikan baru. Pajak ikan lama lebih sempit dan lebih sederhana dibanding pajak ikan baru. Pajak ikan lama terdiri atas toko-toko kecil, sedangkan pajak ikan baru dibangun sebagai jejeran ruko-ruko yang lebih besar. Namun banyak orang masih lebih menyukai pajak ikan lama karena harga yang ditawarkan lebih murah. Menurut Yvette Reisinger dalam bukunya Buhalis dan Costa (Tourism Business frontiers, 2006 : 127), wisatawan memanfaatkan”belanja”sebagai motivasi perjalanan, atraksi wisata dan aktivitas wisata . Wisatawan melaksanakan kegiatan ini untuk mengambil keuntungan dari harga murah yang ditawarkan untuk produk local, brand dan keunikan produk. Di pajak ikan, telah banyak wisatawan local dan internasional (kebanyakan dari Malaysia) yang menjadi consumer. Alasan utamanya adalah karena harga yang murah dan banyaknya pilihan produk yang ditawarkan. Walaupun telah dikunjungi oleh wisatawan, penulis masih meragukan jika label”objek wisata belanja”dilekatkan begitu saja pada pajak ikan. Penulis berasumsi masih diperlukan adanya strategi pengembangan agar pajak ikan bukan hanya sekedar pajak ikan seperti yang biasa kita lihat saat ini. Tapi mampu bersaing Harrods di London dan Nike Town di Chicago. Seperti yang kita ketahui, bahwa destinasi shopping tour di kawasan Asia belum mencantumkan nama Indonesia di peringkat 3 besar, karena kita masih dianggap kalah dengan Hongkong, Singapura dan Thailand. Jika pajak ikan berhasil dikembangkan, bukan mustahil akan memberi pengaruh positif bagi pasar-pasar tradisional lainnya untuk ikut berkembang sebagai objek wisata belanja. Menurut Reisinger dalam buku yang sama, terdapat beberapa factor untuk menghasilkan produk wisata berbasis belanja, diantaranya desain produk yang dijual, keunikan, nilai dan manfaat, reputasi produk, outlet penjualan, layanan, metode pembayaran dan harga, opening hours, lingkungan sekitar dan proses distribusi. Selain itu, strategi pengembangan yang ditawarkan untuk fungsi pengembangan adalah dengan jalan marketing, yaitu dengan melakukan promosi, menawarkan pengalaman unik dalam belanja, pelaksanaan event-event di lokasi belanja dan sekitarnya serta pengembangan fasilitas yang terstandar (toilet, restaurant/food court). Keseluruhan factor diatas dapat disatukan dalam konsep shopper-tainment, yaitu pengembangan objek wisata belanja dengan dasar memberikan kesenangan dan hiburan bagi pengunjungnya. Sekarang, kita berbalik kepada pajak ikan. Mampukah pajak ikan terus berkembang? Siapakah yang bertanggung jawab untuk memastikannya? Dan apakah impian menyejahterakan masyarakat local melalui pengembangan objek wisata belanja dapat terwujud, atau lagi-lagi pengusaha besar lah yang akan meraup keuntungannya? Untuk itu diperlukan penelitian yang lebih serius mengenai hal ini. Selain pajak ikan, masih ada beberapa daerah yang patut dipertimbangkan sebagai objek wisata belanja yang perlu dikembangkan, yaitu kedaung market, ceramic market (di Belawan), petisah dan sambu/sentral sebagai pasar tradisionalnya. Sedangkan untuk shopping object yang lebih mewah, terdapat Paladium, Medan Fair, Sun Plaza, Milenium Plaza dan lain-lain. Jika semua objek ini mampu disinergikan pengembangannya, Kota Medan akan mampu bersaing sebagai kota belanja internasional. Mengapa tidak? Toh kota Medan merupakan salah satu gerbang internasionalnya Indonesia dengan aksesibilitas yang mudah dijangkau dari negara lain, terutama Malaysia dan Singapura.

POTENSI KOTA MEDAN SUMATERA UTARA INDONESIA

KOTA MEDAN A. PANDANGAN UMUM Kota Medan secara geografis terletak di antara 2 27′-2 47’Lintang Utara dan 98 35′-98 44’Bujur Timur. Posisi Kota Medan ada di bagian Utara Propinsi Sumatera Utara dengan topografi miring ke arah Utara dan berada pada ketinggian tempat 2,5-37,5 m di atas permukaan laut. Luas wilayah Kota Medan adalah 265,10 km2 secara administratif terdiri dari 21 Kecamatan dan 151 Kelurahan dengan jumlah penduduk 1.899.327 jiwa. B. SARANA DAN PRASARANA Sarana dan prasarana perhubungan di Kota Medan terdiri dari prasarana perhubungan darat, laut, udara. Transportasi lainnya adalah kereta api. Disamping itu juga telah tersedia prasarana listrik, gas, telekomunikasi, air bersih dan Kawasan Industri Medan (KIM) I. C. IDENTIFIKASI BIDANG USAHA POTENSIAL Bidang Usaha Potensial Perekonomian Kota Medan tahun 2000 didominasi oleh kegiatan perdagangan, hotel dan restoran (35,02%), yang disusul oleh sektor industri pengolahan sebesar 19,70%. Dari besaran nilai kedua sektor tersebut maka dapat dikatakan bahwa potensi unggulan yang paling mungkin berkembang di Kota Medan adalah sektor perdagangan dan industri. Seperti diketahui, dengan status Medan sebagai salah satu kota terbesar di Indonesia maka wajar bila arahan pembangunan kota lebih menitikberatkan pada kedua sektor tersebut, apalagi dengan didukung oleh sarana dan prasarana yang ada. D. POTENSI PENDUKUNG BIDANG USAHA POTENSIAL 1. Perdagangan, Hotel dan Restoran Sebagai daerah yang berada pada pinggiran jalur pelayaran Selat Malaka, Kota Medan sebagai ibukota Provinsi Sumatera Utara memiliki posisi strategis. Kota ini menjadi pintu bagi arus penumpang dan juga perdagangan barang dan jasa, baik perdagangan domestik maupun luar negeri. Bagi Kota Medan , kegiatan perdagangan bersama aktivitas hotel dan restoran menjadi motor penggerak roda perekonomian kota . 2. Pelabuhan Laut Belawan Pelabuhan laut berperan penting dalam mendorong pertumbuhan perekonomian di suatu wilayah. Pelabuhan laut yang menjadi andalan Kota Medan adalah Pelabuhan Belawan yang berjarak 26 km dari pusat kota . Pelabuhan ini tidak hanya berperan penting bagi perekonomian Kota Medan , namun juga bagi Provinsi Sumatera Utara. Kegiatan ekspor dan impor Kabupaten/ Kota lain dilakukan di pelabuhan ini yang dapat dilihat dari aktivitas bongkar.muat barang setiap harinya. Sampai saat ini Pelabuhan Belawan telah memiliki fasilitas pelabuhan penumpang dan barang termasuk terminal peti kemas. Kecenderungan berkembangnya jasa transportasi lewat laut ini memerlukan suatu fasilitas tambahan yang lebih memadai. Terbatasnya daya tampung barang di pelabuhan menuntut suatu pembangunan fasilitas dengan lokasi yang dekat dengan pelabuhan tetapi memadai. Sesuai dengan arahan perkembangan Kota Medan pada masa mendatang perlu dilakukan investasi pada bidang usaha peti kemas dan pergudangan tersebut. 3. Bandara Polonia Bandara Polonia yang terletak di ibukota Provinsi Sumatera Utara yang satu-satunya merupakan Bandara Internasional di Pulau Sumatera yang dilengkapi dengan fasilitas operasional yang cukup baik sehingga pesawat berbadan lebar seperti Boeing 747 dapat mendarat. Bandara Polonia selain menunjang transportasi Internasional juga mempunyai peran yang sangat tinggi melayani transportasi nasional dan regional sehingga keberadaan Bandara Polonia dapat menunjang kegiatan perekonomian di wilayah Bagian Barat Indonesia maupun ke luar negeri khususnya dalam rangka menunjang kerjasama ekonomi sub Regional IMT-GT. 4. Hasil Industri Kecil Terdapat sepuluh produk yang dijadikan andalan Kota Medan bila dilihat dari segi pasarnya. Komoditi unggulan ini termasuk produk konsumsi sederhana, inisialnya perabot rumah tangga dari kayu, anyaman rotan, alas kaki dan barang hasil konveksi. Adapun komoditi unggulan dar iindustri kecil makanan inisialnya kopi olahan, sirup markisa, bika ambon dan kerupuk ubi. Salah satu produk makanan ini, bika ambon telah menjadi buah tangan yang khas untuk dibawa bagi yang berkunjung ke Kota Medan . 5. Pengembangan Kawasan Industri Kota Medan merupakan kota ketiga terbesar di Indonesia, maka seperti kota besar pada umumnya, Medan memiliki kawasan industri. Untuk mengantisipasi perkembangan industri dan kebutuhan lokasi berusaha yang lebih besar, pemerintah kota menyediakan Kawasan Industri Baru (KIB), yang terletak di Kecamatan Medan Labuhan dengan lahan yang disediakan 650 Ha, dan masih bisa dikembangkan menjadi 1000 Ha. Untuk kegiatan industri kecilpun tersedia Perkampungan Industri Kecil (PIK) yang terletak di Kecamatan Medan Denai. Ada satu kawasan industri di Medan yaitu Kawasan Industri Medan (KIM) dekat Pelabuhan Belawan. KIM memiliki luas lahan 514 Ha dan disediakan fasilitas listrik 120 MW. Saat ini terdapat 86 perusahaan swasta nasional yang menempati lokasi tersebut berdampingan dengan 17 perusahaan asing. Dan Kota Medan dinilai sebagai kota yang aman untuk berinvestasi di Indonesia. 6. Pariwisata Di luar potensi bisnisnya, Kota Medan sangatlah layak menjadi tujuan wisata . Selain untuk mengunjungi lokasi seperti Danau Toba atau Berastagi yang sejuk, Kota Medan sendiri sarat dengan objek wisata . Tujuan wisata di Kota Medan diantarnya adalah Taman Buaya di kawasan Sunggal, berisikan 3000 ekor buaya aneka jenis. Namun wisata yang paling menarik di Kota Medan adalah bangunan tuanya yang dibangun dari pertengahan abad XX di Medan . Dan sebagian besar bangunan tua itu masih ada sampai kini, indah dan memberi gambaran utuh pada Kota Medan masa lalu. E. BIDANG USAHA UNGGULAN LAYAK DIKEMBANGKAN A. Fasilitas Pergudangan Pelabuhan Bisnis pergudangan sangat erat kaitannya dengan perkembangan industri, ekspor dan impor. Dalam menghadapi era globalisasi dan pasar bebas, diperkirakan arus ekspor dan impor akan semakin meningkat, hal ini akan berdampak juga pada peningkatan bisnis pergudangan. Selain itu permintaan atas bangunan yang berupa gudang akhir-akhir ini semakin meningkat juga sebagai dampak adanya deregulasi di sektor industri manufaktur serta perdagangan internasional (ekspor/impor). Dan sebagai tindak lanjut adanya peraturan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dalam rangka mengatur tata ruang kota yang mana untuk pergudangan umum yang terletak di daerah kota terkena relokasi. Maka dampak dari pembongkaran bangunan gudang tersebut adalah berkurangnya bangunan gudang, dan sementara itu permintaan akan ruangan gudang semakin meningkat, sehingga dapat dikatakan bahwa masih ada pangsa pasar untuk bisnis pergudangan. B. Kawasan Industri Besar Bisnis kawasan industri hingga saat ini dapat dikatakan belum ada kenaikan yang signifikan. Hal ini mengingat penyerapan kawasan industri sangat tergantung terhadap stabilitas politik, keamanan dan ekonomi. Penurunan kepercayaan dunia usaha secara keseluruhan, akibat krisis moneter yang berkelanjutan menahan perusahaan-perusahaaan asing untuk melakukan investasi industri baru di Indonesia, Akibat kondisi ekonomi politik yang terjadi akhir-akhir ini, memaksa sejumlah investor asing menunda ekspansi bisnisnya ke Indonesia. Bisnis kawasan industri swasta memiliki mitra dengan swasta asing yang juga berfungsi sebagai jaringan pemasaran di negara asal mitranya. SUMBER: WWW.SUMUTPROV.GO.ID

POTENSI KOTA MEDAN SUMATERA UTARA INDONESIA

KOTA MEDAN A. PANDANGAN UMUM Kota Medan secara geografis terletak di antara 2 27′-2 47’Lintang Utara dan 98 35′-98 44’Bujur Timur. Posisi Kota Medan ada di bagian Utara Propinsi Sumatera Utara dengan topografi miring ke arah Utara dan berada pada ketinggian tempat 2,5-37,5 m di atas permukaan laut. Luas wilayah Kota Medan adalah 265,10 km2 secara administratif terdiri dari 21 Kecamatan dan 151 Kelurahan dengan jumlah penduduk 1.899.327 jiwa. B. SARANA DAN PRASARANA Sarana dan prasarana perhubungan di Kota Medan terdiri dari prasarana perhubungan darat, laut, udara. Transportasi lainnya adalah kereta api. Disamping itu juga telah tersedia prasarana listrik, gas, telekomunikasi, air bersih dan Kawasan Industri Medan (KIM) I. C. IDENTIFIKASI BIDANG USAHA POTENSIAL Bidang Usaha Potensial Perekonomian Kota Medan tahun 2000 didominasi oleh kegiatan perdagangan, hotel dan restoran (35,02%), yang disusul oleh sektor industri pengolahan sebesar 19,70%. Dari besaran nilai kedua sektor tersebut maka dapat dikatakan bahwa potensi unggulan yang paling mungkin berkembang di Kota Medan adalah sektor perdagangan dan industri. Seperti diketahui, dengan status Medan sebagai salah satu kota terbesar di Indonesia maka wajar bila arahan pembangunan kota lebih menitikberatkan pada kedua sektor tersebut, apalagi dengan didukung oleh sarana dan prasarana yang ada. D. POTENSI PENDUKUNG BIDANG USAHA POTENSIAL 1. Perdagangan, Hotel dan Restoran Sebagai daerah yang berada pada pinggiran jalur pelayaran Selat Malaka, Kota Medan sebagai ibukota Provinsi Sumatera Utara memiliki posisi strategis. Kota ini menjadi pintu bagi arus penumpang dan juga perdagangan barang dan jasa, baik perdagangan domestik maupun luar negeri. Bagi Kota Medan , kegiatan perdagangan bersama aktivitas hotel dan restoran menjadi motor penggerak roda perekonomian kota . 2. Pelabuhan Laut Belawan Pelabuhan laut berperan penting dalam mendorong pertumbuhan perekonomian di suatu wilayah. Pelabuhan laut yang menjadi andalan Kota Medan adalah Pelabuhan Belawan yang berjarak 26 km dari pusat kota . Pelabuhan ini tidak hanya berperan penting bagi perekonomian Kota Medan , namun juga bagi Provinsi Sumatera Utara. Kegiatan ekspor dan impor Kabupaten/ Kota lain dilakukan di pelabuhan ini yang dapat dilihat dari aktivitas bongkar.muat barang setiap harinya. Sampai saat ini Pelabuhan Belawan telah memiliki fasilitas pelabuhan penumpang dan barang termasuk terminal peti kemas. Kecenderungan berkembangnya jasa transportasi lewat laut ini memerlukan suatu fasilitas tambahan yang lebih memadai. Terbatasnya daya tampung barang di pelabuhan menuntut suatu pembangunan fasilitas dengan lokasi yang dekat dengan pelabuhan tetapi memadai. Sesuai dengan arahan perkembangan Kota Medan pada masa mendatang perlu dilakukan investasi pada bidang usaha peti kemas dan pergudangan tersebut. 3. Bandara Polonia Bandara Polonia yang terletak di ibukota Provinsi Sumatera Utara yang satu-satunya merupakan Bandara Internasional di Pulau Sumatera yang dilengkapi dengan fasilitas operasional yang cukup baik sehingga pesawat berbadan lebar seperti Boeing 747 dapat mendarat. Bandara Polonia selain menunjang transportasi Internasional juga mempunyai peran yang sangat tinggi melayani transportasi nasional dan regional sehingga keberadaan Bandara Polonia dapat menunjang kegiatan perekonomian di wilayah Bagian Barat Indonesia maupun ke luar negeri khususnya dalam rangka menunjang kerjasama ekonomi sub Regional IMT-GT. 4. Hasil Industri Kecil Terdapat sepuluh produk yang dijadikan andalan Kota Medan bila dilihat dari segi pasarnya. Komoditi unggulan ini termasuk produk konsumsi sederhana, inisialnya perabot rumah tangga dari kayu, anyaman rotan, alas kaki dan barang hasil konveksi. Adapun komoditi unggulan dar iindustri kecil makanan inisialnya kopi olahan, sirup markisa, bika ambon dan kerupuk ubi. Salah satu produk makanan ini, bika ambon telah menjadi buah tangan yang khas untuk dibawa bagi yang berkunjung ke Kota Medan . 5. Pengembangan Kawasan Industri Kota Medan merupakan kota ketiga terbesar di Indonesia, maka seperti kota besar pada umumnya, Medan memiliki kawasan industri. Untuk mengantisipasi perkembangan industri dan kebutuhan lokasi berusaha yang lebih besar, pemerintah kota menyediakan Kawasan Industri Baru (KIB), yang terletak di Kecamatan Medan Labuhan dengan lahan yang disediakan 650 Ha, dan masih bisa dikembangkan menjadi 1000 Ha. Untuk kegiatan industri kecilpun tersedia Perkampungan Industri Kecil (PIK) yang terletak di Kecamatan Medan Denai. Ada satu kawasan industri di Medan yaitu Kawasan Industri Medan (KIM) dekat Pelabuhan Belawan. KIM memiliki luas lahan 514 Ha dan disediakan fasilitas listrik 120 MW. Saat ini terdapat 86 perusahaan swasta nasional yang menempati lokasi tersebut berdampingan dengan 17 perusahaan asing. Dan Kota Medan dinilai sebagai kota yang aman untuk berinvestasi di Indonesia. 6. Pariwisata Di luar potensi bisnisnya, Kota Medan sangatlah layak menjadi tujuan wisata . Selain untuk mengunjungi lokasi seperti Danau Toba atau Berastagi yang sejuk, Kota Medan sendiri sarat dengan objek wisata . Tujuan wisata di Kota Medan diantarnya adalah Taman Buaya di kawasan Sunggal, berisikan 3000 ekor buaya aneka jenis. Namun wisata yang paling menarik di Kota Medan adalah bangunan tuanya yang dibangun dari pertengahan abad XX di Medan . Dan sebagian besar bangunan tua itu masih ada sampai kini, indah dan memberi gambaran utuh pada Kota Medan masa lalu. E. BIDANG USAHA UNGGULAN LAYAK DIKEMBANGKAN A. Fasilitas Pergudangan Pelabuhan Bisnis pergudangan sangat erat kaitannya dengan perkembangan industri, ekspor dan impor. Dalam menghadapi era globalisasi dan pasar bebas, diperkirakan arus ekspor dan impor akan semakin meningkat, hal ini akan berdampak juga pada peningkatan bisnis pergudangan. Selain itu permintaan atas bangunan yang berupa gudang akhir-akhir ini semakin meningkat juga sebagai dampak adanya deregulasi di sektor industri manufaktur serta perdagangan internasional (ekspor/impor). Dan sebagai tindak lanjut adanya peraturan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dalam rangka mengatur tata ruang kota yang mana untuk pergudangan umum yang terletak di daerah kota terkena relokasi. Maka dampak dari pembongkaran bangunan gudang tersebut adalah berkurangnya bangunan gudang, dan sementara itu permintaan akan ruangan gudang semakin meningkat, sehingga dapat dikatakan bahwa masih ada pangsa pasar untuk bisnis pergudangan. B. Kawasan Industri Besar Bisnis kawasan industri hingga saat ini dapat dikatakan belum ada kenaikan yang signifikan. Hal ini mengingat penyerapan kawasan industri sangat tergantung terhadap stabilitas politik, keamanan dan ekonomi. Penurunan kepercayaan dunia usaha secara keseluruhan, akibat krisis moneter yang berkelanjutan menahan perusahaan-perusahaaan asing untuk melakukan investasi industri baru di Indonesia, Akibat kondisi ekonomi politik yang terjadi akhir-akhir ini, memaksa sejumlah investor asing menunda ekspansi bisnisnya ke Indonesia. Bisnis kawasan industri swasta memiliki mitra dengan swasta asing yang juga berfungsi sebagai jaringan pemasaran di negara asal mitranya. SUMBER: WWW.SUMUTPROV.GO.ID

Taxi Blue Bird di Medan

Sebagai sosok manusia yang tidak sempurna, saya juga pernah mengeluh. Seperti pada postingan sebelumnya, saya mengeluh tentang kondisi jalanan kota Medan yang macet karena masalah parkir yang semrawutan. Hal ini tidak lepas karena pertambahan kendaraan yang berlangsung terus menerus, entah itu kendaraan milik pribadi atau kendaraan pengangkutan umum.

Barangkali kebutuhan masyarakat akan kendaraan pribadi, didasarkan kepada kebutuhan akan keleluasaan berpindah tempat yang tidak terbatas kepada rute trayek (sebuah jasa yang sudah diakomodir oleh angkot kota Medan). Terkait isu ini, sebenarnya sudah ada opsi yang sejak jaman-entah-kapan sudah hadir di kota Medan, yaitu becak dan taksi serta ojek (walaupun yang terakhir belum meng-cover seluruh kota Medan).

Entah siapa yang memulai, tapi untuk ketiga jenis angkutan tersebut, selama ini sistem tariff yang berlaku adalah “nego harga” antara pengemudi dengan calon penumpang. Jika harga yang dirasa cocok, barulah status calon penumpang beralih menjadi penumpang. Ya.. ketiga-nya, taksi pun tak terkecuali. Sesuatu yang janggal mungkin bagi Anda yang mengenal taksi dengan sistem argo. Seperti kata orang sini

ini Medan, bung

Tak heran saya dulu sempat terkejut ketika berada di kota Jakarta, dimana teman-teman kerap menggunakan jasa taksi dengan benar-benar nyaman. Tinggal stop, langsung naik, dan sebut tujuan.

Barangkali karena kondisi itu, saya termasuk orang yang paling jarang menggunakan jasa taksi di kota Medan ini. Cukup beralasan, menurut saya, karena tariff hasil negosiasi pasti terbilang lebih mahal dibandingkan dengan jasa becak yang menawarkan AC alami plus debu jalanan.

Rupanya, tanpa saya sadari, sebuah culture shock menghampiri bisnis taksi di kota Medan. Taxi Blue Bird sudah mulai menawarkan apa yang saya sebut layanan profesional. Tariff yang mengikuti argo, dan layanan driver yang ramah (baca: tidak “memaksa” penumpang), sepertinya menawarkan perubahan paradigma masyarakat Medan terhadap layanan taksi.

Blue Bird

Konsekuensinya?

Saya tidak meng-amin-kan Blue Bird suatu hari akan “membunuh” bisnis taksi yang lain. Tapi saya justru berharap ini bisa menjadi “tamparan” bagi pengelola bisnis taksi yang lain (termasuk para driver-nya) untuk berhenti memanfaatkan kondisi terjepit para calon pelanggan. Sudah saatnya kan jasa dijajakan selayaknya sebuah layanan jasa? Dipilih sesuai dengan apa yang menjadi nilai jualnya, bukan mengharapkan keberuntungan (untung dapat supir baik, untung dapat supir yang jual murah, untung dapat mobil yang gak bau)

Buat yang butuh, ini nomor telepon untuk penjemputan: 061-8461234

SUMBER : BLOG NICH