Tujuh Gunungan Meriahkan Grebeg Maulud Kraton Yogyakarta

Peringatan Grebeg Maulud Kraton Yogyakarta tahun 2012 pada Minggu (5/2) mendatang, dimeriahkan dengan tujuh buah gunungan yang akan diarak ke beberapa tempat. Keluarnya tujuh gunungan tersebut sekaligus merupakan tanda puncak acara Sekaten yang telah digelar sejak beberapa waktu lalu. Kepala Bagian Humas, Biro UHP Setdaprov DIY, Dra. Kuskasriati mengungkapkan, ketujuh gunungan yang akan diarak tersebut terdiri dari tiga gunungan kakung, satu gunungan putri, satu gunungan gepak, satu gunungan pawuhan, dan satu gunungan darat. Gunungan sendiri dibuat dari aneka macam bahan makanan seperti beras, sayur dan buah-buahan. “Gunungan yang diarak dalam grebeg mulud tersebut pada dasarnya menggambarkan sedekah yang diberikan raja kepada rakyatnya. Gunungan juga merupakan simbol dari kesejahteraan rakyat,”ujarnya Jumat (3/2). Ia menuturkan, gunungan tersebut akan diarak dari Kraton Yogyakarta menuju masjid Gedhe Kauman. Keluarnya ketujuh gunungan akan dikawal oleh 12 bregodo, yakni 10 bregodo prajurit Lombok Abang dari Kraton Yogyakarta dan dua bregodo prajurit Plangkir dari Kadipaten Pakualaman. “Khusus gunungan kakung, akan diperebutkan masyarakat di tiga tempat. Yakni di sekitar Masjid Gedhe Kauman, masyarakat dan abdi dalem di sekitar Kadipaten Pakualaman, serta masyarakat dan abdi dalem Kaprajan di komplek Kepatihan,”tuturnya. Tahun ini juga merupakan tahun kedua kalinya gunungan kakung dibawa ke Kepatihan. Prosesi tersebut sengaja dilakukan dengan maksud untuk mempererat hubungan antara masyarakat dengan Kraton Ngayogyakarto dan Kadipaten Pakualaman sebagai Pusat Budaya, serta Kepatihan sebagai pusat pemerintahan. “Arak-arakan gunungan kakung dari Masjid Gedhe menuju Kepatihan akan dikawal dan dipandu oleh bregodo prajurit Bugis. Sementara prosesi penyerahan gunungan di Masjid Gedhe, Kadipaten Pakualaman, maupun di Kepatihan akan dilakukan oleh abdi dalem Sipat Bupati (KRT) ingkang didawuhaken saking Tepas Duworopuro Karaton,”imbuhnya.

Advertisements

Tujuh Gunungan Meriahkan Grebeg Maulud Kraton Yogyakarta

Peringatan Grebeg Maulud Kraton Yogyakarta tahun 2012 pada Minggu (5/2) mendatang, dimeriahkan dengan tujuh buah gunungan yang akan diarak ke beberapa tempat. Keluarnya tujuh gunungan tersebut sekaligus merupakan tanda puncak acara Sekaten yang telah digelar sejak beberapa waktu lalu. Kepala Bagian Humas, Biro UHP Setdaprov DIY, Dra. Kuskasriati mengungkapkan, ketujuh gunungan yang akan diarak tersebut terdiri dari tiga gunungan kakung, satu gunungan putri, satu gunungan gepak, satu gunungan pawuhan, dan satu gunungan darat. Gunungan sendiri dibuat dari aneka macam bahan makanan seperti beras, sayur dan buah-buahan. “Gunungan yang diarak dalam grebeg mulud tersebut pada dasarnya menggambarkan sedekah yang diberikan raja kepada rakyatnya. Gunungan juga merupakan simbol dari kesejahteraan rakyat,”ujarnya Jumat (3/2). Ia menuturkan, gunungan tersebut akan diarak dari Kraton Yogyakarta menuju masjid Gedhe Kauman. Keluarnya ketujuh gunungan akan dikawal oleh 12 bregodo, yakni 10 bregodo prajurit Lombok Abang dari Kraton Yogyakarta dan dua bregodo prajurit Plangkir dari Kadipaten Pakualaman. “Khusus gunungan kakung, akan diperebutkan masyarakat di tiga tempat. Yakni di sekitar Masjid Gedhe Kauman, masyarakat dan abdi dalem di sekitar Kadipaten Pakualaman, serta masyarakat dan abdi dalem Kaprajan di komplek Kepatihan,”tuturnya. Tahun ini juga merupakan tahun kedua kalinya gunungan kakung dibawa ke Kepatihan. Prosesi tersebut sengaja dilakukan dengan maksud untuk mempererat hubungan antara masyarakat dengan Kraton Ngayogyakarto dan Kadipaten Pakualaman sebagai Pusat Budaya, serta Kepatihan sebagai pusat pemerintahan. “Arak-arakan gunungan kakung dari Masjid Gedhe menuju Kepatihan akan dikawal dan dipandu oleh bregodo prajurit Bugis. Sementara prosesi penyerahan gunungan di Masjid Gedhe, Kadipaten Pakualaman, maupun di Kepatihan akan dilakukan oleh abdi dalem Sipat Bupati (KRT) ingkang didawuhaken saking Tepas Duworopuro Karaton,”imbuhnya.

Kisah Kucing Kesayangan Nabi SAW, dan Keistimewaan Kucing Dalam Islam

Didalam perkembangan peradaban islam, kucing hadir sebagai teman sejati dalam setiap nafas dan gerak geliat perkembangan islam. Diceritakan dalam suatu kisah, Nabi Muhammad SAW memiliki seekor kucing yang diberi nama Mueeza. Suatu saat, dikala nabi hendak mengambil jubahnya, di temuinya Mueeza sedang terlelap tidur dengan santai diatas jubahnya. Tak ingin mengganggu hewan kesayangannya itu, nabi pun memotong belahan lengan yang ditiduri Mueeza dari jubahnya. Ketika Nabi kembali ke rumah, Muezza terbangun dan merunduk sujud kepada majikannya. Sebagai balasan, nabi menyatakan kasih sayangnya dengan mengelus lembut ke badan mungil kucing itu sebanyak 3 kali. Dalam aktivitas lain, setiap kali Nabi menerima tamu di rumahnya, nabi selalu menggendong mueeza dan di taruh dipahanya. Salah satu sifat Mueeza yang nabi sukai ialah ia selalu mengeong ketika mendengar azan, dan seolah-olah suaranya terdengar seperti mengikuti lantunan suara adzan. Kepada para sahabatnya, nabi berpesan untuk menyayangi kucing peliharaan, layaknya menyanyangi keluarga sendiri. Hukuman bagi mereka yang menyakiti hewan lucu ini sangatlah serius, dalam sebuah hadist shahih Al Bukhori, dikisahkan tentang seorang wanita yang tidak pernah memberi makan kucingnya, dan tidak pula melepas kucingnya untuk mencari makan sendiri, Nabi SAW pun menjelaskan bahwa hukuman bagi wanita ini adalah siksa neraka. Tak hanya nabi, istri nabi sendiri, Aisyah binti Abu Bakar Ash Shiddiq pun amat menyukai kucing, dan merasa amat kehilangan dikala ditinggal pergi oleh si kucing. Seorang sahabat yang juga ahli hadist, Abdurrahman bin Sakhr Al Azdi diberi julukan Abu Hurairah (bapak para kucing jantan), karena kegemarannya dalam merawat dan memelihara berbagai kucing jantan dirumahnya. Penghormatan para tokoh islam terhadap kucing pasca wafatnya Nabi SAW. Dalam buku yang berjudul Cats of Cairo, pada masa dinasti mamluk, baybars al zahir, seorang sultan yang juga pahlawan garis depan dalam perang salib sengaja membangun taman-taman khusus bagi kucing dan menyediakan berbagai jenis makanan didalamnya. Tradisi ini telah menjadi adat istiadat di berbagai kota-kota besar negara islam. Hingga saat ini, mulai dari damaskus, istanbul hingga kairo, masih bisa kita jumpai kucing-kucing yang berkeliaran di pojok-pojok masjid tua dengan berbagai macam makanan yang disediakan oleh penduduk setempat. Pengaruh Kucing dalam Seni Islam. Pada abad 13, sebagai manifestasi penghargaan masyarakat islam, rupa kucing dijadikan sebagai ukiran cincin para khalifah, termasuk porselen, patung hingga mata uang. Bahkan di dunia sastra, para penyair tak ragu untuk membuat syair bagi kucing peliharaannya yang telah berjasa melindungi buku-buku mereka dari gigitan tikus dan serangga lainnya. Kucing yang memberi inspirasi bagi para sufi. Seorang Sufi ternama bernama ibnu bashad yang hidup pada abad ke sepuluh bercerita, suatu saat ia dan sahabat-sahabatnya sedang duduk santai melepas lelah di atas atap masjid kota kairo sambil menikmati makan malam. Ketika seekor kucing melewatinya, Ibnu Bashad memberi sepotong daging kepada kucing itu, namun tak lama kemudian kucing itu balik lagi, setelah memberinya potongan yang ke dua, diam-diam Ibnu Bashad mengikuti kearah kucing itu pergi, hingga akhirnya ia sampai disebuah atap rumah kumuh, dan didapatinya si kucing tadi sedang menyodorkan sepotong daging yang diberikan Ibnu Bashad kepada kucing lain yang buta kedua matanya. Peristiwa ini sangat menyentuh hatinya hingga ia menjadi seorang sufi sampai ajal menjemputnya pada tahun 1067. Selain itu, kaum sufi juga percaya, bahwa dengkuran nafas kucing memiliki irama yang sama dengan dzikir kalimah Allah. Cerita yang dijadikan sebagai sauri tauladan Salah satu cerita yang cukup mahsyur yaitu tentang seekor kucing peliharaan yang dipercaya oleh seorang pria, untuk menjaga anaknya yang masih bayi dikala ia pergi selama beberapa saat. Bagaikan prajurit yang mengawal tuannya, kucing itu tak hentinya berjaga di sekitar sang bayi. Tak lama kemudian melintaslah ular berbisa yang sangat berbahaya di dekat si bayi mungil tersebut. Kucing itu dengan sigapnya menyerang ular itu hingga mati dengan darah yang berceceran. Sorenya ketika si pria pulang, ia kaget melihat begitu banyak darah di kasur bayinya. Prasangkanya berbisik, si kucing telah membunuh anak kesayangannya! Tak ayal lagi, ia mengambil pisau dan memenggal leher kucing yang tak berdosa itu. Tak lama kemudian, ia kaget begitu melihat anaknya terbangun, dengan bangkai ular yang telah tercabik di belakang punggung anaknya. melihat itu, si pria menangis dan menyesali perbuatannya setelah menyadari bahwa ia telah mebunuh kucing peliharaannya yang telah bertaruh nyawa menjaga keselamatan anaknya. Kisah ini menjadi refleksi bagi masyarakat islam di timur tengah untuk tidak berburuk sangka kepada siapapun. Hukum membunuh kucing Tahukah agan Nabi Muhammad saw juga membela kucing? Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra.: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Seorang wanita disiksa karena mengurung seekor kucing sampai mati. Kemudian wanita itu masuk neraka karenanya, yaitu karena ketika mengurungnya ia tidak memberinya makan dan tidak pula memberinya minum sebagaimana ia tidak juga melepasnya mencari makan dari serangga-serangga tanah. (Shahih Muslim No.4160) dan Dalam syariat Islam, seorang muslim diperintahkan untuk tidak menyakiti atau bahkan membunuh kucing, berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari kisah Abdullah bin Umar[1] dan Abu Hurairah.[2] Adakah manfaat kucing bagi dunia ilmu pengetahuan? Salah satu kitab terkenal yang ditulis oleh cendikia muslim tempo dulu adalah kitab hayat al hayaawan yang telah menjadi inspirasi bagi perkembangan dunia zoologi saat ini. Salah satu isinya mengenai ilmu medis, banyak para dokter muslim tempo dulu yang menjadikan kucing sebagai terapi medis untuk penyembuhan tulang, melalui dengkuran suaranya yang setara dengan gelombang sebesar 50 hertz. Dengkuran tersebut menjadi frekuensi optimal dalam menstimulasi pemulihan tulang. Tak hanya ilmu pengetahuan, bangsa barat juga banyak membawa berbagai jenis kucing dari timur tengah, hingga akhirnya kepunahan kucing akibat mitos alat sihir di barat dapat terselamatkan. Kucing “Muqawwamah”: Kucing Palestina yang Dipenjara di Sel Khusus Israel Jika boleh iri, kaum muslimin mungkin harus iri kepada kucing Palestina. Pasalnya, ditengah ketidakmampuan kita ikut membela saudara-saudara kita di Palestina yang kini sedang berjuang mempertahankan Masjidil Aqsha dari ancaman israel, justru seekor kucing tampil sebagai pahlawan. Kucing itu dinilai zionis-israel dapat membangkitkan perlawanan (muqawwamah). Sebagaimana dikutip situs http://www.maannews.net , zionis-israel telah memenjarakan seekor kucing Palestina. Kucing ini dinilai menjadi penghubung di sel isolasi di kamp tahanan pejuang-pejuang Palestina di Negev. Menurut pejabat israel, kucing tersebut membantu para tahanan dengan membawa barang-barang ringan seperti surat, roti dan lainnya dari satu sel ke sel lain. Peran itu dimainkan si kucing selama berbulan-bulan, sebelum akhirnya ketahuan. Penjaga penjara Negev lalu menjebloskan kucing itu ke dalam sel khusus. Nah, siapa bersedia menjenguk kucing yang pintar ini? Adakah kira-kira pengacara dermawan yang akan membelanya?

Kisah Kucing Kesayangan Nabi SAW, dan Keistimewaan Kucing Dalam Islam

Didalam perkembangan peradaban islam, kucing hadir sebagai teman sejati dalam setiap nafas dan gerak geliat perkembangan islam. Diceritakan dalam suatu kisah, Nabi Muhammad SAW memiliki seekor kucing yang diberi nama Mueeza. Suatu saat, dikala nabi hendak mengambil jubahnya, di temuinya Mueeza sedang terlelap tidur dengan santai diatas jubahnya. Tak ingin mengganggu hewan kesayangannya itu, nabi pun memotong belahan lengan yang ditiduri Mueeza dari jubahnya. Ketika Nabi kembali ke rumah, Muezza terbangun dan merunduk sujud kepada majikannya. Sebagai balasan, nabi menyatakan kasih sayangnya dengan mengelus lembut ke badan mungil kucing itu sebanyak 3 kali. Dalam aktivitas lain, setiap kali Nabi menerima tamu di rumahnya, nabi selalu menggendong mueeza dan di taruh dipahanya. Salah satu sifat Mueeza yang nabi sukai ialah ia selalu mengeong ketika mendengar azan, dan seolah-olah suaranya terdengar seperti mengikuti lantunan suara adzan. Kepada para sahabatnya, nabi berpesan untuk menyayangi kucing peliharaan, layaknya menyanyangi keluarga sendiri. Hukuman bagi mereka yang menyakiti hewan lucu ini sangatlah serius, dalam sebuah hadist shahih Al Bukhori, dikisahkan tentang seorang wanita yang tidak pernah memberi makan kucingnya, dan tidak pula melepas kucingnya untuk mencari makan sendiri, Nabi SAW pun menjelaskan bahwa hukuman bagi wanita ini adalah siksa neraka. Tak hanya nabi, istri nabi sendiri, Aisyah binti Abu Bakar Ash Shiddiq pun amat menyukai kucing, dan merasa amat kehilangan dikala ditinggal pergi oleh si kucing. Seorang sahabat yang juga ahli hadist, Abdurrahman bin Sakhr Al Azdi diberi julukan Abu Hurairah (bapak para kucing jantan), karena kegemarannya dalam merawat dan memelihara berbagai kucing jantan dirumahnya. Penghormatan para tokoh islam terhadap kucing pasca wafatnya Nabi SAW. Dalam buku yang berjudul Cats of Cairo, pada masa dinasti mamluk, baybars al zahir, seorang sultan yang juga pahlawan garis depan dalam perang salib sengaja membangun taman-taman khusus bagi kucing dan menyediakan berbagai jenis makanan didalamnya. Tradisi ini telah menjadi adat istiadat di berbagai kota-kota besar negara islam. Hingga saat ini, mulai dari damaskus, istanbul hingga kairo, masih bisa kita jumpai kucing-kucing yang berkeliaran di pojok-pojok masjid tua dengan berbagai macam makanan yang disediakan oleh penduduk setempat. Pengaruh Kucing dalam Seni Islam. Pada abad 13, sebagai manifestasi penghargaan masyarakat islam, rupa kucing dijadikan sebagai ukiran cincin para khalifah, termasuk porselen, patung hingga mata uang. Bahkan di dunia sastra, para penyair tak ragu untuk membuat syair bagi kucing peliharaannya yang telah berjasa melindungi buku-buku mereka dari gigitan tikus dan serangga lainnya. Kucing yang memberi inspirasi bagi para sufi. Seorang Sufi ternama bernama ibnu bashad yang hidup pada abad ke sepuluh bercerita, suatu saat ia dan sahabat-sahabatnya sedang duduk santai melepas lelah di atas atap masjid kota kairo sambil menikmati makan malam. Ketika seekor kucing melewatinya, Ibnu Bashad memberi sepotong daging kepada kucing itu, namun tak lama kemudian kucing itu balik lagi, setelah memberinya potongan yang ke dua, diam-diam Ibnu Bashad mengikuti kearah kucing itu pergi, hingga akhirnya ia sampai disebuah atap rumah kumuh, dan didapatinya si kucing tadi sedang menyodorkan sepotong daging yang diberikan Ibnu Bashad kepada kucing lain yang buta kedua matanya. Peristiwa ini sangat menyentuh hatinya hingga ia menjadi seorang sufi sampai ajal menjemputnya pada tahun 1067. Selain itu, kaum sufi juga percaya, bahwa dengkuran nafas kucing memiliki irama yang sama dengan dzikir kalimah Allah. Cerita yang dijadikan sebagai sauri tauladan Salah satu cerita yang cukup mahsyur yaitu tentang seekor kucing peliharaan yang dipercaya oleh seorang pria, untuk menjaga anaknya yang masih bayi dikala ia pergi selama beberapa saat. Bagaikan prajurit yang mengawal tuannya, kucing itu tak hentinya berjaga di sekitar sang bayi. Tak lama kemudian melintaslah ular berbisa yang sangat berbahaya di dekat si bayi mungil tersebut. Kucing itu dengan sigapnya menyerang ular itu hingga mati dengan darah yang berceceran. Sorenya ketika si pria pulang, ia kaget melihat begitu banyak darah di kasur bayinya. Prasangkanya berbisik, si kucing telah membunuh anak kesayangannya! Tak ayal lagi, ia mengambil pisau dan memenggal leher kucing yang tak berdosa itu. Tak lama kemudian, ia kaget begitu melihat anaknya terbangun, dengan bangkai ular yang telah tercabik di belakang punggung anaknya. melihat itu, si pria menangis dan menyesali perbuatannya setelah menyadari bahwa ia telah mebunuh kucing peliharaannya yang telah bertaruh nyawa menjaga keselamatan anaknya. Kisah ini menjadi refleksi bagi masyarakat islam di timur tengah untuk tidak berburuk sangka kepada siapapun. Hukum membunuh kucing Tahukah agan Nabi Muhammad saw juga membela kucing? Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra.: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Seorang wanita disiksa karena mengurung seekor kucing sampai mati. Kemudian wanita itu masuk neraka karenanya, yaitu karena ketika mengurungnya ia tidak memberinya makan dan tidak pula memberinya minum sebagaimana ia tidak juga melepasnya mencari makan dari serangga-serangga tanah. (Shahih Muslim No.4160) dan Dalam syariat Islam, seorang muslim diperintahkan untuk tidak menyakiti atau bahkan membunuh kucing, berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari kisah Abdullah bin Umar[1] dan Abu Hurairah.[2] Adakah manfaat kucing bagi dunia ilmu pengetahuan? Salah satu kitab terkenal yang ditulis oleh cendikia muslim tempo dulu adalah kitab hayat al hayaawan yang telah menjadi inspirasi bagi perkembangan dunia zoologi saat ini. Salah satu isinya mengenai ilmu medis, banyak para dokter muslim tempo dulu yang menjadikan kucing sebagai terapi medis untuk penyembuhan tulang, melalui dengkuran suaranya yang setara dengan gelombang sebesar 50 hertz. Dengkuran tersebut menjadi frekuensi optimal dalam menstimulasi pemulihan tulang. Tak hanya ilmu pengetahuan, bangsa barat juga banyak membawa berbagai jenis kucing dari timur tengah, hingga akhirnya kepunahan kucing akibat mitos alat sihir di barat dapat terselamatkan. Kucing “Muqawwamah”: Kucing Palestina yang Dipenjara di Sel Khusus Israel Jika boleh iri, kaum muslimin mungkin harus iri kepada kucing Palestina. Pasalnya, ditengah ketidakmampuan kita ikut membela saudara-saudara kita di Palestina yang kini sedang berjuang mempertahankan Masjidil Aqsha dari ancaman israel, justru seekor kucing tampil sebagai pahlawan. Kucing itu dinilai zionis-israel dapat membangkitkan perlawanan (muqawwamah). Sebagaimana dikutip situs http://www.maannews.net , zionis-israel telah memenjarakan seekor kucing Palestina. Kucing ini dinilai menjadi penghubung di sel isolasi di kamp tahanan pejuang-pejuang Palestina di Negev. Menurut pejabat israel, kucing tersebut membantu para tahanan dengan membawa barang-barang ringan seperti surat, roti dan lainnya dari satu sel ke sel lain. Peran itu dimainkan si kucing selama berbulan-bulan, sebelum akhirnya ketahuan. Penjaga penjara Negev lalu menjebloskan kucing itu ke dalam sel khusus. Nah, siapa bersedia menjenguk kucing yang pintar ini? Adakah kira-kira pengacara dermawan yang akan membelanya?

SEJARAH & NASAB SUNAN BAYAT & SUNAN PANDANARAN

“Tulisan ini mencoba menjelaskan”versi” sejarah & nasab Sunan Bayat & Sunan Pandanaran yangberdasarkan penelitian penulisnya, dianggap lebih mendekati kebenaran & kevalidan” Oleh : Habibullah Ba-Alawi Al-Husaini Dalam Forum diskusi Group Majelis Dakwah Wali Songo http://www.facebook.com/topic.php?topic=112&post=255&uid=120689947966448#post255 [Data Sejarah Dari catatan Al-Habib Bahruddin Azmatkhan Ba’alawi tahun 1979] Data Tentang Sunan Bayat & Sunan Pandanaran : I. Nama asli Sunan Bayat : Sayyid Maulana Muhammad Hidayatullah Nama Lain / Gelar-gelar Sunan Bayat adalah: 1. Pangeran Mangkubumi, 2. Susuhunan Tembayat, 3. Sunan Pandanaran (II), [Kata-kata Pandanaran juga berasal dari bahasa Jawa Kawi yaitu Pandan arang = artinya kota Suci] 4. Wahyu Widayat Beliau Hidup pada masa Kesultanan Demak dan Giri Kedathon (Pad abad ke-16 M, di era Kesultanan Demak tersebut, Jabatan penasehat Sultan dipegang oleh Sunan Giri, Dan Sunan Giri mendirikan Kerajaan didaerah Giri Gresik dengan nama Giri Kedathon dan merupakan Kerajaan bagian dari kesultanan Demak) Makam beliau terletak di perbukitan (“Gunung Jabalkat” berasal dari kata Jabal Katt artinya Gunung yang tinggi dan jauh ) di wilayah Kecamatan Bayat, Klaten, Jawa Tengah dan masih ramai diziarahi orang hingga sekarang. II. Ayah Sunan Bayat atau Sunan tembayat adalah Sayyid Abdul Qadir yang lahir di Pasai, putra Maulana Ishaq. Beliau diangkat dengan arahan Sunan Giri yang merupakan saudara seayahnya untuk Menjadi Bupati Semarang yang pertama, dan bergelan Sunan Pandan arang. Beliau lantas berkedudukan di Pragota, yang sekarang adalah tempat bernama Bergota di kelurahan Randusari, Semarang Selatan. Dahulu Pragota berada sangat dekat dengan pantai, karena wilayah Kota Lama Semarang merupakan daratan baru yang terbentuk karena endapan dan proses pengangkatan kerak bumi. TanahSemarang diberikan kepada Pandan Arang oleh Sultan Demak.Beliau wafat di Kelurahan Mugassari Semarang Selatan. Jadi Sayyid Abdul Qadir adalah Sunan Pandan arang, jabatannyaBupati Semarang, Gelarnya adalah Maulana Islam, lahir di Pasai, wafat di Semarang. Gelar-gelar Sayyid Abdul Qadir bin Maulana Ishaq : 1. Ki Ageng Pandan Arang, bupatipertama Semarang. 2. Sunan Pandanaran 1 3. Maulana Islam 4. Sunan Semarang III. Ibu Sunan Bayat atau istri Sunan Pandanaran I bernama Syarifah Pasai adik Pati Unus @ Raden Abdul Qadir (Mantu Raden Patah Demak) putra Raden Muhammad Yunus dari Jepara putra seorang Muballigh pendatang dari Parsi yang dikenal dengan sebutan Syekh Khaliqul Idrus @ Abdul Khaliq Al Idrus bin Syekh Muhammad Al Alsiy (wafat di Parsi) bin Syekh Abdul Muhyi Al Khayri (wafat di Palestina) bin Syekh Muhammad Akbar Al-Ansari (wafat di Madina) bin Syekh Abdul Wahhab (wafat di Mekkah) bin Syekh Yusuf Al Mukhrowi (wafat di Parsi) bin Imam Besar HadramawtSyekh Muhammad Al Faqih Al Muqaddam. IV. Nasab Sunan Bayat & Sunan Pandanaran I : Ada berbagai versi yang beredarttg Nasab Sunan Pandanaran, sebagian besar babad menyatakan bahwa ia adalah putra dari Pati Unus @ Panembahan Sabrang Lor (sultankedua Kesultanan Demak) yang menolak tahta karena lebih sukamemilih mendalami spiritualitas. Posisi sultan ketiga Demak kemudian diberikan kepada pamannya. Pendapat lain menyatakan bahwa ia adalah saudagar asing, mungkin dari Arab, Persia, atau Turki, yang meminta izin sultan Demak untukberdagang dan menyebarkan Islam di daerah Pragota. Izin diberikan baginya di daerah sebelah barat Demak. Cerita lain bahkan menyebutkan ia adalah putra dari Brawijaya V, raja Majapahit terakhir, meskipun tidak ada bukti tertulis apa pun mengenainya. Berbagai versi di atas tidak dapat dipertanggung jawabkan dan perlu diluruskan. Versi Pertama muncul karena Ki AgengPandan Arang memiliki hubungan dekat dengan Pati Unus. Hubungan Ki Ageng pandan Arang atau Ki Ageng Pandanaranatau Sunan Pandanaran dengan Pati Unus (Pangeran Sabrang Lor) menurut Habib Bahruddin adalah hubungan anak angkat dengan ayah angkat. Pati Unus mengangkat Sunan Pandanaran sebagai anak angkatnya. Karena Syarifah Pasai adalah adik kandung Pati Unus. Pendapat kedua muncul karena Sunan Pandanaran nampak seperti orang asing karena memang memiki darah Arab, sbgmn akan kita lihat dalam datadi bawah; namun kisahnya sbg saudagar tidak tepat, lantas pendapat ketiga merupakan kebiasaan mitos setempat melegitimasikan kekuasaan akan suatu daerah karena dianggap sebagai turunan Penguasa Jawa sebelumnya yakni dari Majapahit,riwayat ini amat lemah karena tidak ada bukti tertulis apa pun mengenainya. Riwayat dari catatan habib Bahruddin ba’alawi, tahun 1979, telah menggugurkan hikayat atau babad yang menceritakan bahwa Ki Ageng pandanaran adalah anak kandung Pati Unus dan versi-versi lainnya Nasab Sunan Pandanaran & Sunan Bayat : 1. Nabi Muhammad 2. Sayyidah Fathimah Az-Zahra 3. Al-Husain 4. Ali Zainal Abidin 5. Muhammad Al-Baqir 6. Ja’far Shadiq 7. Ali Al-Uraidhi 8. Muhammad 9. Isa 10. Ahmad Al-Muhajir 11. Ubaidillah 12. Alwi 13. Muhammad 14. Alwi 15. Ali Khali’ Qasam 16. Muhammad Shahib Mirbath 17. Alwi Ammil Faqih 18. Abdul Malik Azmatkhan 19. Abdillah 20. Ahmad Jalaluddin 21. Jamaluddin Al-Husain 22. Ibrahim Zainuddin Al-Akbar 23. Maulana Ishak 24. Maulana Islam @Ki Ageng Pandanaran @Sunan Pandanaran@Sayyid Abdul Qadir @Sunan Semarang 25. Sunan Bayat @ Sunan Tembayat @ Sunan Pandanaran II.

SEJARAH & NASAB SUNAN BAYAT & SUNAN PANDANARAN

“Tulisan ini mencoba menjelaskan”versi” sejarah & nasab Sunan Bayat & Sunan Pandanaran yangberdasarkan penelitian penulisnya, dianggap lebih mendekati kebenaran & kevalidan” Oleh : Habibullah Ba-Alawi Al-Husaini Dalam Forum diskusi Group Majelis Dakwah Wali Songo http://www.facebook.com/topic.php?topic=112&post=255&uid=120689947966448#post255 [Data Sejarah Dari catatan Al-Habib Bahruddin Azmatkhan Ba’alawi tahun 1979] Data Tentang Sunan Bayat & Sunan Pandanaran : I. Nama asli Sunan Bayat : Sayyid Maulana Muhammad Hidayatullah Nama Lain / Gelar-gelar Sunan Bayat adalah: 1. Pangeran Mangkubumi, 2. Susuhunan Tembayat, 3. Sunan Pandanaran (II), [Kata-kata Pandanaran juga berasal dari bahasa Jawa Kawi yaitu Pandan arang = artinya kota Suci] 4. Wahyu Widayat Beliau Hidup pada masa Kesultanan Demak dan Giri Kedathon (Pad abad ke-16 M, di era Kesultanan Demak tersebut, Jabatan penasehat Sultan dipegang oleh Sunan Giri, Dan Sunan Giri mendirikan Kerajaan didaerah Giri Gresik dengan nama Giri Kedathon dan merupakan Kerajaan bagian dari kesultanan Demak) Makam beliau terletak di perbukitan (“Gunung Jabalkat” berasal dari kata Jabal Katt artinya Gunung yang tinggi dan jauh ) di wilayah Kecamatan Bayat, Klaten, Jawa Tengah dan masih ramai diziarahi orang hingga sekarang. II. Ayah Sunan Bayat atau Sunan tembayat adalah Sayyid Abdul Qadir yang lahir di Pasai, putra Maulana Ishaq. Beliau diangkat dengan arahan Sunan Giri yang merupakan saudara seayahnya untuk Menjadi Bupati Semarang yang pertama, dan bergelan Sunan Pandan arang. Beliau lantas berkedudukan di Pragota, yang sekarang adalah tempat bernama Bergota di kelurahan Randusari, Semarang Selatan. Dahulu Pragota berada sangat dekat dengan pantai, karena wilayah Kota Lama Semarang merupakan daratan baru yang terbentuk karena endapan dan proses pengangkatan kerak bumi. TanahSemarang diberikan kepada Pandan Arang oleh Sultan Demak.Beliau wafat di Kelurahan Mugassari Semarang Selatan. Jadi Sayyid Abdul Qadir adalah Sunan Pandan arang, jabatannyaBupati Semarang, Gelarnya adalah Maulana Islam, lahir di Pasai, wafat di Semarang. Gelar-gelar Sayyid Abdul Qadir bin Maulana Ishaq : 1. Ki Ageng Pandan Arang, bupatipertama Semarang. 2. Sunan Pandanaran 1 3. Maulana Islam 4. Sunan Semarang III. Ibu Sunan Bayat atau istri Sunan Pandanaran I bernama Syarifah Pasai adik Pati Unus @ Raden Abdul Qadir (Mantu Raden Patah Demak) putra Raden Muhammad Yunus dari Jepara putra seorang Muballigh pendatang dari Parsi yang dikenal dengan sebutan Syekh Khaliqul Idrus @ Abdul Khaliq Al Idrus bin Syekh Muhammad Al Alsiy (wafat di Parsi) bin Syekh Abdul Muhyi Al Khayri (wafat di Palestina) bin Syekh Muhammad Akbar Al-Ansari (wafat di Madina) bin Syekh Abdul Wahhab (wafat di Mekkah) bin Syekh Yusuf Al Mukhrowi (wafat di Parsi) bin Imam Besar HadramawtSyekh Muhammad Al Faqih Al Muqaddam. IV. Nasab Sunan Bayat & Sunan Pandanaran I : Ada berbagai versi yang beredarttg Nasab Sunan Pandanaran, sebagian besar babad menyatakan bahwa ia adalah putra dari Pati Unus @ Panembahan Sabrang Lor (sultankedua Kesultanan Demak) yang menolak tahta karena lebih sukamemilih mendalami spiritualitas. Posisi sultan ketiga Demak kemudian diberikan kepada pamannya. Pendapat lain menyatakan bahwa ia adalah saudagar asing, mungkin dari Arab, Persia, atau Turki, yang meminta izin sultan Demak untukberdagang dan menyebarkan Islam di daerah Pragota. Izin diberikan baginya di daerah sebelah barat Demak. Cerita lain bahkan menyebutkan ia adalah putra dari Brawijaya V, raja Majapahit terakhir, meskipun tidak ada bukti tertulis apa pun mengenainya. Berbagai versi di atas tidak dapat dipertanggung jawabkan dan perlu diluruskan. Versi Pertama muncul karena Ki AgengPandan Arang memiliki hubungan dekat dengan Pati Unus. Hubungan Ki Ageng pandan Arang atau Ki Ageng Pandanaranatau Sunan Pandanaran dengan Pati Unus (Pangeran Sabrang Lor) menurut Habib Bahruddin adalah hubungan anak angkat dengan ayah angkat. Pati Unus mengangkat Sunan Pandanaran sebagai anak angkatnya. Karena Syarifah Pasai adalah adik kandung Pati Unus. Pendapat kedua muncul karena Sunan Pandanaran nampak seperti orang asing karena memang memiki darah Arab, sbgmn akan kita lihat dalam datadi bawah; namun kisahnya sbg saudagar tidak tepat, lantas pendapat ketiga merupakan kebiasaan mitos setempat melegitimasikan kekuasaan akan suatu daerah karena dianggap sebagai turunan Penguasa Jawa sebelumnya yakni dari Majapahit,riwayat ini amat lemah karena tidak ada bukti tertulis apa pun mengenainya. Riwayat dari catatan habib Bahruddin ba’alawi, tahun 1979, telah menggugurkan hikayat atau babad yang menceritakan bahwa Ki Ageng pandanaran adalah anak kandung Pati Unus dan versi-versi lainnya Nasab Sunan Pandanaran & Sunan Bayat : 1. Nabi Muhammad 2. Sayyidah Fathimah Az-Zahra 3. Al-Husain 4. Ali Zainal Abidin 5. Muhammad Al-Baqir 6. Ja’far Shadiq 7. Ali Al-Uraidhi 8. Muhammad 9. Isa 10. Ahmad Al-Muhajir 11. Ubaidillah 12. Alwi 13. Muhammad 14. Alwi 15. Ali Khali’ Qasam 16. Muhammad Shahib Mirbath 17. Alwi Ammil Faqih 18. Abdul Malik Azmatkhan 19. Abdillah 20. Ahmad Jalaluddin 21. Jamaluddin Al-Husain 22. Ibrahim Zainuddin Al-Akbar 23. Maulana Ishak 24. Maulana Islam @Ki Ageng Pandanaran @Sunan Pandanaran@Sayyid Abdul Qadir @Sunan Semarang 25. Sunan Bayat @ Sunan Tembayat @ Sunan Pandanaran II.

Alquran terbesar di dunia

Selama lima tahun terakhir, sejumlah ahli kaligrafi Afghanistan di bawah bimbingan Mohammad Sabir Khedri berjuang keras untuk membuat Al Quran terbesar di dunia. Setelah melalui perjalanan panjang, Al Quran tersebut akhirnya diresmikan di Perpustakaan Hakim Nasir Khosrow Balkhi yang terletak di kota Kabul, Kamis (12/01/2012). Al Quran raksasa ini seakan membuktikan kepada dunia bahwa perang yang berkecamuk selama 30 tahun terakhir di Afghanistan tidak pernah menghancurkan peradaban Islam di tempat tersebut. SUMBER: VIVANEWS