Kotagede Yogyakarta Akan Jadi Tujuan Wisata Utama

Badan Promosi Pariwisata Kota Yogyakarta berencana terus mempromosikan Kotagede sehingga bisa menjadi tujuan wisata utama di Kota Yogyakarta selain Malioboro dan Keraton.” Potensi Kotagede untuk dikembangkan menjadi tujuan wisata utama  cukup besar, sehingga sangat tepat bila menjadi pusat tujuan wisata utama di Yogyakarta,”kata Ketua Badan Promosi Pariwisata Kota Yogyakarta (BP2KY) Dedy Pranawa Eryana di Yogyakarta, Selasa (14/6/2011). Sangat tepat bila Kotagede menjadi pusat tujuan wisata utama di Yogyakarta. — Dedy Pranawa Eryana Menurut Dedy, sejumlah potensi wisata yang cukup menarik di Kotagede di antaranya adalah kerajinan perak, kuliner, wisata ziarah seperti masjid dan juga makam raja-raja, serta kehidupan sehari-hari masyarakat yang cukup unik.”Saya pikir, potensi wisata di Kotagede tersebut dapat dijual seperti halnya di Penang , Malaysia, yaitu menjual wisata heritage dan itu laku keras,”katanya. Dedy melanjutkan, potensi Kotagede tersebut dapat laku dijual tidak hanya untuk wisatawan mancanegara, tetapi juga untuk wisatawan domestik. Namun demikian, Dedy mengatakan, pengembangan Kotagede menjadi tujuan wisata utama di Kota Yogyakarta tersebut tidak hanya memerlukan kesiapan fisik, tetapi juga sumber daya manusia.”Tetapi, potensi wisata di daerah tersebut cukup banyak dengan wisata budaya sebagai ikonnya,”lanjutnya. Dedy menambahkan, aksesibilitas wisatawan ke Kotagede masih terbatas, sehingga memerlukan tambahan fasilitas penunjang yaitu kantong parkir.” Potensi – potensi wisata di Kotagede tersebut tidak hanya akan diminati oleh wisatawan mancanegara tetapi juga wisatawan domestik, meskipun pilihan jenis wisatanya berbeda,”katanya.  Sumber : antara Share Tweet.

Advertisements

Kotagede Yogyakarta Akan Jadi Tujuan Wisata Utama

Badan Promosi Pariwisata Kota Yogyakarta berencana terus mempromosikan Kotagede sehingga bisa menjadi tujuan wisata utama di Kota Yogyakarta selain Malioboro dan Keraton.” Potensi Kotagede untuk dikembangkan menjadi tujuan wisata utama  cukup besar, sehingga sangat tepat bila menjadi pusat tujuan wisata utama di Yogyakarta,”kata Ketua Badan Promosi Pariwisata Kota Yogyakarta (BP2KY) Dedy Pranawa Eryana di Yogyakarta, Selasa (14/6/2011). Sangat tepat bila Kotagede menjadi pusat tujuan wisata utama di Yogyakarta. — Dedy Pranawa Eryana Menurut Dedy, sejumlah potensi wisata yang cukup menarik di Kotagede di antaranya adalah kerajinan perak, kuliner, wisata ziarah seperti masjid dan juga makam raja-raja, serta kehidupan sehari-hari masyarakat yang cukup unik.”Saya pikir, potensi wisata di Kotagede tersebut dapat dijual seperti halnya di Penang , Malaysia, yaitu menjual wisata heritage dan itu laku keras,”katanya. Dedy melanjutkan, potensi Kotagede tersebut dapat laku dijual tidak hanya untuk wisatawan mancanegara, tetapi juga untuk wisatawan domestik. Namun demikian, Dedy mengatakan, pengembangan Kotagede menjadi tujuan wisata utama di Kota Yogyakarta tersebut tidak hanya memerlukan kesiapan fisik, tetapi juga sumber daya manusia.”Tetapi, potensi wisata di daerah tersebut cukup banyak dengan wisata budaya sebagai ikonnya,”lanjutnya. Dedy menambahkan, aksesibilitas wisatawan ke Kotagede masih terbatas, sehingga memerlukan tambahan fasilitas penunjang yaitu kantong parkir.” Potensi – potensi wisata di Kotagede tersebut tidak hanya akan diminati oleh wisatawan mancanegara tetapi juga wisatawan domestik, meskipun pilihan jenis wisatanya berbeda,”katanya.  Sumber : antara Share Tweet.

Daftar Obyek Wisata Dan Budaya DI NATUNA Kecamatan Bunguran Timur – Ranai

Sektor Pariwisata Kabupaten Natuna memiliki banyak potensi yang luar biasa, kabupaten ini memiliki panorama keindahan alam yang masih alami. Gugusan-gugusan pulau, terumbu karang, kehidupan satwa laut, gunung granit, air terjun, dan masih banyak lagi yang dapat di eksplorasi oleh wisatawan baik domestik maupun manca negara. Kekuatan karakteralam yang ada di Kabupaten Natuna sangat mendukung untuk masuk kedalam segmentasi ekowisata (ecotourism).

Terdapat dua jenis obyek pariwisata potensial yang dapat ditemui di Kabupaten Natuna, yakni:

1. Ekowisata
Kekayaan alam memang menjadi daya tarik utama sektor pariwisata Kabupaten Natuna. Beberapa bentuk ekowisata ini antara lain :

Panorama pantai.
Panorama Air Terjun
Pulau-pulau kecil
Panorama bawah laut dan terumbu karang
Panorama pegunungan dan perbukitan
Wisata konservasi flora dan fauna
2. Wisata budaya
Beberapa bentuk ekowisata ini antara lain :

Atraksi budaya
Wisata warisan sejarah dan budaya

Daftar obyek Wisata dan Budaya Kecamatan Bunguran Timur berdasarkan Jenis Wisata :

Jenis Wisata Pantai :

Pantai Tanjung
Tanjung Sani
Tanjung Pengadah
Pulau Kambing
Sebagul
Tanjung Sujung
Selemut
Tanjung Pasir
Tanjung Sebintang
Pian Padang
Cemaga
Setengar
Pulau panjang
Pendek
dan Senoa
Jenis Wisata Pantai Berbatu :

Batu Kapal
Tanjung Senubing
Batu Kasah
Batu Koan
Jenis Wisata Pulau :

Pulau Panjang
Pendek
Pulau Kambing
Pulau Sahi
Pulau Senoa
Pulau Kukup
Pulau Kemudi
Pulau
Jenis Wisata Terumbu Karang :

Pulau Senoa
Jenis Wisata Sungai :

Sungai Penarik
Sengkap
Silas
Curing
Segeram
Lebai
Semitan
Tanjung Kubur
Muara
Sungai Mitan
Jenis Wisata Danau/ waduk :

Danau Tapau
Jenis Wisata Gunung :

Gunung Ranai, Bedung, Selahang, Ceruk Bukit Kapur, Bukit Telegung
Wisata Batu :

Batu Sindu
Batu Kapal
Batu Sisir
Batu Takek
Batu Telapak
Tok Nyong
Batu Koan
Batu Rusia
Jenis Wisata Hutan :

Gunug Ranai
Bukit Liman
Gunung Bedung
Jenis Wisata Sejarah :

Rumah Datuk Kaya
Batu Rusia
Telapak tok Nyong.
Jenis Wisata Ziarah :

Keramat Batu Merah
Keramat Batu Sisir
Keramat Air Kumbik
Wisata air Terjun :

Air Terjun Gunung Ranai
Air Terjun Gunung Air Hiu Ceruk
Jenis Wisata Goa :

Batu Sindu
Pulau Senoa
Gunung Ranai
Senubing.

Daftar Obyek Wisata Dan Budaya DI NATUNA Kecamatan Bunguran Timur – Ranai

Sektor Pariwisata Kabupaten Natuna memiliki banyak potensi yang luar biasa, kabupaten ini memiliki panorama keindahan alam yang masih alami. Gugusan-gugusan pulau, terumbu karang, kehidupan satwa laut, gunung granit, air terjun, dan masih banyak lagi yang dapat di eksplorasi oleh wisatawan baik domestik maupun manca negara. Kekuatan karakteralam yang ada di Kabupaten Natuna sangat mendukung untuk masuk kedalam segmentasi ekowisata (ecotourism).

Terdapat dua jenis obyek pariwisata potensial yang dapat ditemui di Kabupaten Natuna, yakni:

1. Ekowisata
Kekayaan alam memang menjadi daya tarik utama sektor pariwisata Kabupaten Natuna. Beberapa bentuk ekowisata ini antara lain :

Panorama pantai.
Panorama Air Terjun
Pulau-pulau kecil
Panorama bawah laut dan terumbu karang
Panorama pegunungan dan perbukitan
Wisata konservasi flora dan fauna
2. Wisata budaya
Beberapa bentuk ekowisata ini antara lain :

Atraksi budaya
Wisata warisan sejarah dan budaya

Daftar obyek Wisata dan Budaya Kecamatan Bunguran Timur berdasarkan Jenis Wisata :

Jenis Wisata Pantai :

Pantai Tanjung
Tanjung Sani
Tanjung Pengadah
Pulau Kambing
Sebagul
Tanjung Sujung
Selemut
Tanjung Pasir
Tanjung Sebintang
Pian Padang
Cemaga
Setengar
Pulau panjang
Pendek
dan Senoa
Jenis Wisata Pantai Berbatu :

Batu Kapal
Tanjung Senubing
Batu Kasah
Batu Koan
Jenis Wisata Pulau :

Pulau Panjang
Pendek
Pulau Kambing
Pulau Sahi
Pulau Senoa
Pulau Kukup
Pulau Kemudi
Pulau
Jenis Wisata Terumbu Karang :

Pulau Senoa
Jenis Wisata Sungai :

Sungai Penarik
Sengkap
Silas
Curing
Segeram
Lebai
Semitan
Tanjung Kubur
Muara
Sungai Mitan
Jenis Wisata Danau/ waduk :

Danau Tapau
Jenis Wisata Gunung :

Gunung Ranai, Bedung, Selahang, Ceruk Bukit Kapur, Bukit Telegung
Wisata Batu :

Batu Sindu
Batu Kapal
Batu Sisir
Batu Takek
Batu Telapak
Tok Nyong
Batu Koan
Batu Rusia
Jenis Wisata Hutan :

Gunug Ranai
Bukit Liman
Gunung Bedung
Jenis Wisata Sejarah :

Rumah Datuk Kaya
Batu Rusia
Telapak tok Nyong.
Jenis Wisata Ziarah :

Keramat Batu Merah
Keramat Batu Sisir
Keramat Air Kumbik
Wisata air Terjun :

Air Terjun Gunung Ranai
Air Terjun Gunung Air Hiu Ceruk
Jenis Wisata Goa :

Batu Sindu
Pulau Senoa
Gunung Ranai
Senubing.

NATUNA ISLANDS: ‘Eden’of The Sunken Sundaland

Located in the middle of South China Sea, between east (Borneo)& west (Peninsula) Malaysia, lies the stunningly beautiful archipelago of Natuna Islands. Officially a part of the Riau Archipelago province, Natuna Islands is actually the northernmost group of islands of Indonesia . This 272-islands archipelago is indeed a true and true ‘eden’ of the sunken Sunda Shelf of the Malay Archipelago ! Mountain tops or tiny islands? Or both? The ‘eden’ of Natuna Islands are the ‘scattered’ mountainous parts of the sunken Sundaland/Sunda Shelf which had managed to stay ‘afloat’ above the sea level. Well…you see…at the height of theLast Ice Age (about 20,000 – 18,000 years ago), almost all of the South East Asia lands and seas (ie the Gulf of Thailand and the Java Sea) were all dry and thus formed a continent twice the size of India – called Sunda Shelf or Sundaland. Dramatic and catastrophic rise in water level occurred between 8,000-7500 years ago (at the end of the Last Ice Age – the 3rdGreat Flood). Experts claimed that record shows that the sea indeed rose at least 120 metres during those 3 Great Floods! The flooding of South East Asia resulted in major loss of parts of the flat land of the Sunda Shelf. Now…back to the present time… the archipelago of Natuna Islands offers unspoiled beaches – with landscape & culture that is absolutely worth a visit! They arealso famous for their lovely woven textiles. And not forgetting… those graceful and mesmerising traditional dances too. Natuna Besar Island (or locally known as ‘Ranai’) is the largest insize and also northernmost of theislands. Mount Ranai in the island is the highest mountain in the Natuna Archipelago (1,035m). It also has extensive accommodationfacilities, ie hotels, resorts and inns. Despite of its size, Ranai town is indeed quite a lively place.There are traditional markets, large supermarkets and also modern medical facilities available on the island. According to local historians, the 1st ever habitant of Natuna Besar Island was a young boy from Siam (present day Thailand).He was ‘swept away’ on a log andmarooned on the island. The boy was later known as ‘Demang Megat’. He was later married to aprincess from the Kingdom of Johor (southernmost state in Peninsula Malaysia) by the name of Engku Fatimah. The archipelago of Natuna Islands are vitally important due to the fact that they actually sit in waters that carry MORE than HALF of the world’s supertanker traffic! And of course, fisheries resources are enormous! But more importantly… very, verysignificant reserves of oil and gas are believed waiting to be exploited right under the sea! Indeed, some claimed that the largest gas fields in the WORLD has been found… right here! So how one gets to enjoy the magical beauty of this ‘floating Eden’ of the sunken Sundaland? Well, the easiest way is to fly. Go to Batam and head straight to Hang Nadim Airport. The small Fokker aircraft seats 45 passengers and takes about 1.5 hours to reach Ranai Airport on the Natuna Besar Island. The price? US8O per pax/one way. Alternative mode of transport? Well… you can ride a boat from Kijang Harbor of Tanjung Pinang, Bintan Island. The boat takes 12 hours to reach Natuna Besar Island and the service is available only once a week! Not a bad idea if you want to be ‘marooned’ for 7 days…continuously… on a lost- lovely- island of ‘eden’ of the long forgotten sunken Sundaland…:) Awesome!

NATUNA ISLANDS: ‘Eden’of The Sunken Sundaland

Located in the middle of South China Sea, between east (Borneo)& west (Peninsula) Malaysia, lies the stunningly beautiful archipelago of Natuna Islands. Officially a part of the Riau Archipelago province, Natuna Islands is actually the northernmost group of islands of Indonesia . This 272-islands archipelago is indeed a true and true ‘eden’ of the sunken Sunda Shelf of the Malay Archipelago ! Mountain tops or tiny islands? Or both? The ‘eden’ of Natuna Islands are the ‘scattered’ mountainous parts of the sunken Sundaland/Sunda Shelf which had managed to stay ‘afloat’ above the sea level. Well…you see…at the height of theLast Ice Age (about 20,000 – 18,000 years ago), almost all of the South East Asia lands and seas (ie the Gulf of Thailand and the Java Sea) were all dry and thus formed a continent twice the size of India – called Sunda Shelf or Sundaland. Dramatic and catastrophic rise in water level occurred between 8,000-7500 years ago (at the end of the Last Ice Age – the 3rdGreat Flood). Experts claimed that record shows that the sea indeed rose at least 120 metres during those 3 Great Floods! The flooding of South East Asia resulted in major loss of parts of the flat land of the Sunda Shelf. Now…back to the present time… the archipelago of Natuna Islands offers unspoiled beaches – with landscape & culture that is absolutely worth a visit! They arealso famous for their lovely woven textiles. And not forgetting… those graceful and mesmerising traditional dances too. Natuna Besar Island (or locally known as ‘Ranai’) is the largest insize and also northernmost of theislands. Mount Ranai in the island is the highest mountain in the Natuna Archipelago (1,035m). It also has extensive accommodationfacilities, ie hotels, resorts and inns. Despite of its size, Ranai town is indeed quite a lively place.There are traditional markets, large supermarkets and also modern medical facilities available on the island. According to local historians, the 1st ever habitant of Natuna Besar Island was a young boy from Siam (present day Thailand).He was ‘swept away’ on a log andmarooned on the island. The boy was later known as ‘Demang Megat’. He was later married to aprincess from the Kingdom of Johor (southernmost state in Peninsula Malaysia) by the name of Engku Fatimah. The archipelago of Natuna Islands are vitally important due to the fact that they actually sit in waters that carry MORE than HALF of the world’s supertanker traffic! And of course, fisheries resources are enormous! But more importantly… very, verysignificant reserves of oil and gas are believed waiting to be exploited right under the sea! Indeed, some claimed that the largest gas fields in the WORLD has been found… right here! So how one gets to enjoy the magical beauty of this ‘floating Eden’ of the sunken Sundaland? Well, the easiest way is to fly. Go to Batam and head straight to Hang Nadim Airport. The small Fokker aircraft seats 45 passengers and takes about 1.5 hours to reach Ranai Airport on the Natuna Besar Island. The price? US8O per pax/one way. Alternative mode of transport? Well… you can ride a boat from Kijang Harbor of Tanjung Pinang, Bintan Island. The boat takes 12 hours to reach Natuna Besar Island and the service is available only once a week! Not a bad idea if you want to be ‘marooned’ for 7 days…continuously… on a lost- lovely- island of ‘eden’ of the long forgotten sunken Sundaland…:) Awesome!

Sejarah Tato Tertua Di Dunia, Dari Mentawai

Orang Mentawai sudah menato badan sejak kedatangan merekake pantai barat Sumatera. Bangsa Proto Melayu ini datang dari daratan Asia (Indocina), pada Zaman Logam, 1500 SM-500 SM. Itu artinya, tato mentawailah yang tertua di dunia. Bukan tato Mesir, sebagaimana disebut-sebut berbagai buku.Sebutan tato konon diambil dari kata tatau dalam bahasa Tahiti. Kata ini pertama kali tercatat oleh peradaban Barat dalam ekspedisiJames Cook pada 1769. Menurut Encyclopaedia Britannica, tato tertua ditemukan pada mumi Mesir dari abad ke-20 SM. Tanda permanenyang dibuat dengan cara memasukkan pewarna ke dalam lapisan kulit itu, ditemui hampir diseluruh belahan dunia.Dalam catatan Ady Rosa, 48 tahun, dosen Seni Rupa, Universitas Negeri Padang, Sumatera Barat, tato Mesir baru ada pada 1300 SM. Menurut magister seni murni,Institut Teknologi Bandung (ITB) ini, orang Mentawai sudah menato badan sejak kedatanganmereka ke pantai barat Sumatera. Bangsa Proto Melayu ini datang dari daratan Asia (Indocina), pada Zaman Logam, 1500 SM-500 SM.’’Itu artinya, tato Mentawai-lah yang paling tua di dunia,’’ kata Ady Rosa, yang telah 10 tahun meneliti tato. Di Mentawai. Tato dikenal dengan istilah titi. Dalam penelitian Ady Rosa, selain Mentawai dan Mesir, tato juga terdapat di Siberia (300 SM), Inggris (54 SM), Indian Haida di Amerika, suku-suku di Eskimo, Hawaii dan Kepulauan Marquesas.Budaya rajah ini, jugaditemukan pada suku Rapa Nui diKepulauan Easter, suku Maori di Selandia Baru, suku Dayak di Kalimantan dan suku Sumba di Sumatera Barat. Bagi orang Mentawai, tato merupakan roh kehidupan. Ady, yang pada 1992 menelusuri pusat kebudayaan Mentawai di Pulau Siberut, menemukan sedikitnya empat kedudukan tato di sana.Salah satu kedudukan tato adalah untuk menunjukkan jati diri dan perbedaan status sosial atau profesi. Tato dukun sikerei, misalnya, berbeda dengan tato ahli berburu. Ahli berburu dikenallewat gambar binatang tangkapannya, seperti babi, rusa, kera, burung atau buaya. Sikerei diketahui dari tato bintang sibalu-balu di badannya. Hikayat Arat Sabulungan secara berseloroh Ady menyatakan, ‘’Jadi, sebelum para jenderal punya bintang, dukun Mentawai sudah punya lebih dulu….’’Menurut penelitian Ady, yang oleh dua guru besar ITB, A.D. Pirous dan Primadi Tabrani, dijuluki ‘’Jenderal Tato’’, bagi masyarakat Mentawai, tato jugamemiliki fungsi sebagai simbol keseimbangan alam. Dalam masyarakat itu, benda-benda seperti batu, hewan dan tumbuhan harus diabadikan di atas tubuh. ‘’Mereka menganggap semua benda memiliki jiwa,’’ kata Ady. Fungsi tato yang lain adalah keindahan. Masyarakat Mentawai juga bebas menato tubuh sesuai dengan kreativitasnya.Kedudukan tato diatur oleh kepercayaan suku Mentawai, ‘’Arat Sabulungan’’. Istilah ini berasal dari kata sa (se) atau sekumpulan, serta bulung atau daun. Sekumpulan daun itu dirangkai dalam lingkaran yang terbuat dari pucuk enau atau rumbia, diyakinimemiliki tenaga gaib kere atau ketse. Inilah yang kemudian dipakai sebagai media pemujaan Tai Kabagat Koat (Dewa Laut), Tai Ka-leleu (roh hutan dan gunung), dan Tai Ka Manua (roh awang-awang).Arat Sabulungan dipakai dalam setiap upacara kelahiran, perkawinan, pengobatan, pindah rumah, dan penatoan. Ketika anak lelaki memasuki akil balig, usia 11-12 tahun, orangtua memanggil sikerei dan rimata (kepala suku).Mereka akan berunding menentukan hari dan bulan pelaksanaan penatoan.Setelah itu, dipilihlah sipatiti -seniman tato. Sipatiti ini bukanlah jabatanberdasarkan pengangkatan masyarakat, seperti dukun atau kepala suku, melainkan profesi laki-laki. Keahliannya harus dibayar dengan seekor babi. Sebelum penatoan akan dilakukan punen enegat, alias upacara inisiasi yang dipimpin sikerei, di puturukat (galeri milik sipatiti).Tubuh bocah yang akan ditato itu lalu mulai digambar dengan lidi. Sketsa di atas tubuhitu kemudian ditusuk dengan jarum bertangkai kayu. Tangkai kayu ini dipukul pelan-pelan dengan kayu pemukul untuk memasukkan zat pewarna ke dalam lapisan kulit. Pewarna yang dipakai adalah campuran daun pisang dan arang tempurung kelapa.Janji Gagak Borneo Penatoan awal atau paypay sakoyuan, itu dilakukan di bagian pangkal lengan. Ketika usianya menginjak dewasa, tatonya dilanjutkan dengan pola durukat di dada, titi takep di tangan, titi rere pada paha dan kaki, titi puso di atas perut, kemudian titi teytey pada pinggang dan punggung.Dalam kesimpulan Ady Rosa, tato Mentawai berhubungan erat dengan budaya dongson di Vietnam. Diduga, dari sinilah orang Mentawai berasal. Dari negeri moyang itu, mereka berlayar ke Samudra Pasifik dan Selandia Baru. Akibatnya, motif serupa ditemui juga pada beberapa suku di Hawaii, Kepulauan Marquesas, suku RapaNui di Kepulauan Easter, serta suku Maori di Selandia Baru.Tato Mentawai Lebih Demokratis Di Indonesia, menurut Ady, tradisi tato Mentawai lebih demokratis dibandingkan dengan tato Dayakdi Kalimantan. Dalam budaya Dayak, tato menunjukkan statuskekayaan seseorang.‘’Makin bertato, makin kaya,’’ katanya. Toh, Baruamas Jabang Balumus, 67 tahun, tokoh adat Dayak darisuku Taman, menuturkan, dalam tato masyarakat Dayak ada aspek lain selain simbol strata sosial. ’’Tato adalah wujud penghormatan kepada leluhur,’’ kata tokoh bernama asli MasukaDjanting itu. Contohnya adalah tradisi tato dalam kebudayaan Dayak Iban dan Dayak Kayan. Di kedua suku itu, menato diyakini sebagai simbol dan sarana untukmengungkapkan penguasa alam. Tato juga dipercaya mampu menangkal roh jahat, serta mengusir penyakit ataupun roh kematian.Tato sebagai wujud ungkapan kepada Tuhan terkait dengan kosmologi Dayak. Bagi masyarakat Dayak, alam terbagi tiga: atas, tengah dan bawah. Simbol yang mewakili kosmos atas terlihat pada motif tato burung enggang, bulan dan matahari. Dunia tengah, tempat hidup manusia, disimbolkan dengan pohon kehidupan. Sedangkan ular naga adalah motif yang memperlihatkan duniabawah.Charles Hose, opsir Inggrisdi Kantor Pelayanan Sipil Sarawak pada 1884, rajin mencatat legenda-legenda yang dipercaya orang Dayak itu. Dalambuku Natural Man, A Record fromBorneo terbitan Oxford University Press, 1990, Charles Hose menceritakan janji burung gagak borneo dan burung kuau argus untuk saling menghiasi bulu mereka.Setelah Haid Pertama Dalam legenda itu, gagak berhasil mulus melakukan tugasnya. Sayang, kuau adalah burung bodoh. Karena tak mampu, akhirnya kuau argus meminta burung gagak untuk duduk di atas semangkuk tinta, lalu menggosokkannya ke seluruh tubuh kuau, pemakan bangkai itu. Sejak saat itulah, konon, burung gagak dan burung kuau memiliki warna bulu dan ‘’dandanan’’ seperti sekarang.Secara luas, tato ditemukan di seluruh masyarakatDayak. Namun, Hose menilai, teknik dan desain tato terbaik dimiliki suku Kayan. Bagi suku ini, penatoan hanya dilakukan bila memenuhi syarat tertentu. Bagi lelaki, proses penatoan dilakukansetelah ia bisa mengayau kepala musuh. Tradisi tato bagi laki-laki ini perlahan tenggelam sejalan dengan larangan mengayau.Setelah ada pelarangan itu, tato hanya muncul untuk kepentingan estetika. Tradisi tato tak hilang pada kaum Hawa. Kini, mereka menganggap tato sebagai lambang keindahan dan harga diri. Meski masyarakat Dayak tidak mengenal kasta, tedak kayaan, alias perempuan tak bertato, dianggap lebih rendah derajatnya dibandingkan denganyang bertato.Ada tiga macam tato yang biasa disandang perempuan Dayak Kayan. Antaralain tedak kassa, yang meliputi seluruh kaki dan dipakai setelah dewasa. Lainnya adalah tedak usuu di seluruh tangan, dan tedak hapii di seluruh paha. Di kalangan suku Dayak Kenyah, penatoan dimulai ketika seorang wanita berusia 16 tahun, atau setelah haid pertama.Upacara adat dilakukan di sebuah rumah khusus. Selama penatoan, semuakaum pria dalam rumah tersebuttidak boleh keluar dari rumah. Selain itu, seluruh anggota keluarga juga wajib menjalani berbagai pantangan. Konon, kalau pantangan itu dilanggar, keselamatan orang yang ditato akan terancam. Dulu, agar anak yang ditato tidak bergerak, lesung besar diletakkan di atas tubuhnya.Kalau si anak sampai menangis, tangisan itu harus dilakukan dalam alunan nada yang juga khusus. Di masyarakatDayak Iban, tato menggambarkan status sosial. Kepala adat, kepala kampung, dan panglima perang menato diridengan simbol dunia atas. Simbol dunia bawah hanya menghiasi tubuh masyarakat biasa. Motif inidiwariskan turun-temurun untukmenunjukkan garis kekerabatan. Seorang sikerei (dukun budaya) bercerita mengenai pembuatan tato khas Mentawai. Tato, mereka menyebutnya titi, adalahsalah satu bagian dari ekspresi seni dan perlambang status orang dari Suku Mentawai. Dulu, tato populer di kalangan baik lelaki maupun perempuan Mentawai yang telah dewasa. Kini, hanya sebagian kecil suku Mentawai yang masih bertato. Sebagian dari mereka bisa ditemui di pedalaman Pulau Siberut. Tato dibuat oleh seorang sipatiti(pembuat tato). Proses pembuatan tato memakan waktuyang lama, terutama pada tahappersiapannya yang bisa sampai berbulan-bulan. Ada sejumlah upacara dan pantangan (punen) yang harus dilewati oleh orang yang ingin ditato. Tak semua orang sanggup melewati tahap ini. Sebelum sipatiti mulai membuat tato, ada ritual upacara yang dipimpin oleh sikerei (dukun budaya Mentawai). Tuan rumah lalu mengadakan pesta dengan menyembelih babi dan ayam. Daging babi dan ayam ini juga sebagai upah yang diberikan untuk sikerei. Tutulu bercerita bahwa ntuk menyelenggarakan pesta membuat tato ini saja bisamenghabiskan biaya sekitar lima juta rupiah.Jarum yang digunakan terbuat dari tulang hewan atau kayu karai yang diruncingkan. Dengan mengetok-ngetoknya, terciptalah garis-garis yang merupakan motif utama tato suku Mentawai. Pewarna yang digunakan berasaldari arang yang menempel di kuali. Sikerei yang merupakan kakaknya Tutulu berkata bahwabiasanya pembuatan tato dimulaidari telapak tangan, tangan, kaki lalu tubuh. Selama beberapahari, kulit yang baru ditato akanbengkak dan mengeluarkan darah. Membayangkannya saja saya ngeri. sumber: http://www.indonesiansubculture.com/portal/articles.php?article_id=20 Sumber: http://travel.detik.com/read/2010/12/08/203709/1512280/1025/tato-mentawai-tato-tertua-di-dunia